.
Headlines News :

Label atas

.
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Misteri Putri Cantik Bersuami Seratus di Aceh

Kamar pengantin itu tampak gemerlap. Kemilaunya bukan dari pancaran emas permata hadiah pernikahan Sang Sultan, tetapi karena sosok putri dengan kecantikan yang tak terlukiskan itu.

Perempuan itu Nian Nio Liang Khie. Pengantin Sultan Meurah Johan. Nian Nio Liang Khie yang telah berganti nama Putroe Neng tampak menunduk malu di sudut ruangan. Pancaran kecantikan Sang Permaisuri itu tak redup dalam keremangan. Betapa kebahagiaan Sultan Meurah Johan tak terperikan. Malam itu adalah malam pertama bagi keduanya.

Sultan Meurah Johan masih teringat. Sebelum putri laksamana Tiongkok itu dipersuntingnya, jangankan untuk saling mencintai, saling sapa saja tidak mungkin. Keduanya adalah musuh di medan tempur. Yang ada hanya hasrat untuk saling menghabisi.

Kala itu, ketika Islam belum menyentuh seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di Aceh, 2 ribu pasukan wanita berpakaian serba merah di bawah komando Nian Nio Liang Khie dan ibunya Liang Khie datang menyerbu. Mereka hendak menaklukkan Kerajaan Indra Jaya, Indra Patra, dan Indra Puri. Tujuannya, menyatukan sejumlah kerajaan di Pulau Ruja (Sumatera), masa itu.

Mendengar berita bahwa kerajaan tetangga diserang, Kerajaan Indra Purba yang dipimpin Indra Sakti bersiap menghadapi lawan. Saat itu, Raja Indra Sakti meminta bantuan laskar perang dari kerajaan Islam di Peureulak.

Liang Khie tewas dalam pertempuran, sementara Nian Nio Liang Khie menjadi tawanan perang. Dari dalam kurungan, pesona sang putri itu tak terbendung dan menarik hati siapa pun yang melihat. Sultan Meurah Johan, ulama dan pendiri Kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam pun demikian.

Kendati telah menikah dengan Putri Indra Kusuma, yakni putri bungsu dari Kerajaan Indra Sakti, tetapi, Sultan Meurah Johan urung membuang perasaan cintanya kepada Nian Nao Liang Khie. Dia sudah kadung terpana.

Setelah bergabung dengan Kerajaan Darud Donya, cinta Sultan Meurah Johan berbalas. Dia akhirnya menikahi gadis keturunan Tiongkok itu. Saat itu, Nian Nao Liang Khie masuk Islam dan mengubah namanya menjadi 'Putroe Neng'.

"Siapa sangka, malam pertama yang harusnya menjadi malam bahagia bagi mereka, berujung kematian Meurah Johan. Tubuh Meurah Johan terbujur kaku dengan kulit tubuh membiru," tutur Ali, penghayat sejarah dan budaya Aceh, asal Meulaboh, kepada Liputan6.com, Selasa, 11 Desember 2018, pagi.

Putroe Neng terperangah. Dia geming. Membisu di samping tubuh suaminya yang sudah tidak bernyawa. Sultan Meurah Johan meregang nyawa beberapa saat setelah menyentuh pujaan hatinya itu.

Di atas, hanya awal perjalanan kehidupan cinta maharani asal Kerajaaan Tiongkok itu. Selanjutnya, ada 98 orang bernasib sama dengan Sultan Meurah Johan. Setiap yang menjadi suami Putroe Neng nan cantik jelata itu, pasti meregang nyawa pada malam pertama.

Saat itu, kabar bahwa Putroe Neng membawa sial merebak. Banyak orangtua takut anaknya mendekati janda kembang itu. Cerita kalau menikahi Putroe Neng membawa kematian menyebar cepat. Seiring itu, meroket pula cerita kecantikan Putroe Neng yang memesona.

Banyak pria mencoba mendekati. Betapa kecantikan dan keanggunan yang dimiliki Putroe Neng tak dapat ditolak. Satu persatu pria meminang, satu persatu pun dipinang, tetapi oleh kematian. Sebanyak 99 suami tewas di tempat tidur, sementara Putroe Neng hanya mampu menangis. Apa gerangan yang salah pada dirinya.

"Kisah Putroe Neng ini sangat fenomenal lho. Sempat ditulis dalam novel 'Putroe Neng' sentuhan epik Ayi Jufridar, berhalaman 384 halaman," sebut Ali.

Kutukan berakhir saat perempuan yang kesepian dan selalu dirundung kesedihan itu dinikahi oleh Syeikh Syiah Hudam, yang tak lain adalah pria keseratus yang menikah dengan Putroe Neng.

Malam pertama mereka dilewati dengan kebahagiaan tak terperi. Kini Putroe Neng tak lagi merasa sepi dan sendiri. Sayangnya, hingga ajal menjemput, keduanya tidak mempunyai keturunan.

"Lalu, apa yang menyebabkan 99 suami lainnya tewas setelah menyentuh Putroe Neng di malam pertama? Nah, mereka meninggal gara-gara senjata, di kemaluan Putroe Neng. Ya, ada racun ditanam semacam susuk oleh nenek Putroe Neng di genitalnya, sebagai upaya menyelamatkan sang cucu dari tindak pemerkosaan zaman perang, saat itu," kata Ali.

AngKhi, panggilan sayang Putroe Neng sewaktu kecil, ditaruh sesuatu di alat kelaminnya oleh sang nenek pada saat dia berumur 7 tahun. Saat itu, Khie Nai-Naisaat, nenek Putroe Neng, takut cucunya menjadi korban keganasan perang.

Namun, pada saat menjalani malam pertama dengan Syekh Syiah Hudam, dia sudah menyadari ada sesuatu yang tersimpan pada alat kelamin sang istri. Tanpa disadari Putroe Neng, diam-diam dia berhasil mengeluarkan susuk tersebut. Syekh Syiah Hudam pun melalui malam pertama dan malam-malam selanjutnya dengan selamat.

Konon, susuk tersebut dimasukkan oleh Syekh Syiah Hudam ke dalam sepotong bambu dan dipotong menjadi dua bagian. Satu bagian dibuang ke laut, dan bagian lainnya dibuang ke gunung. Setelah racun itu dikeluarkan, kecantikan Putroe Neng meredup.

Dianggap Hoaks

Benar tidaknya cerita Putroe Neng memiliki seratus suami diragukan banyak pihak. Mereka menilai, itu hanyalah pengibaratan. Menggambarkan bagaimana komandan perang asal Tiongkok itu telah menaklukkan seratus pria di medan pertempuran.

Selain itu, kendati sudah banyak literasi mengenai Putroe Neng, tetapi, belum ada yang mampu mengungkap siapa 98 suami selain Sultan Meurah Johan dan Syekh Syah Hudam.

"Ya, kisahnya memang fenomenal. Namun itu cenderung dianggap mitos. Kita juga tidak tahu. Namun, yang pasti, yang namanya 'Putroe Neng' itu benar adanya. Ada kuburannya," ucap Ali pada akhir ceritanya.

Kuburan Putroe Neng alias Nian Nio Liang Khie berada di pinggir jalan di Banda Aceh-Medan, tepatnya di kawasan 'Makam Putroe Neng' di Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Kompleks pemakaman ini sudah dipugar beberapa kali sejak 1978.

Sumber

Melawan Lupa Tragedi Simpang KKA

Kala itu, tidak ada pembelaan apapun dari orang lain. Apalagi mengadakan Aksi Akbar Bela Aceh sambil mengelilingi Istana Indonesia. Kecuali, diri kita sesama bangsa Aceh.
Kala itu, tidak ada pembelaan dari para agamawan lain bahwa ini adalah tindakan terkutuk yang dilakukan negara. Apalagi, sampai mengadakan Shalat Ghaib berjamaah di mesjid-mesjid, stadion-stadion di ibukota negara. Kecuali, hanya ulama kita dan sesama bangsa Aceh.
Kala itu, tidak ada hasil ijtima' apapun dan dari siapapun yang mampu menggerakkan jiwa-jiwa manusia sebagai tanda persoalan darah lebih penting dari persoalan pemilihan kepala negara. Kecuali, hanya kita bangsa Aceh yang saling duduk memanusiakan manusia.
Saya tidak pernah lupa. Tidak ada cerita tersadis yang pernah kubaca selain kisah para santri yang diberondong bersama gurunya. Tidak ada film terpilu yang pernah kutonton selain para perempuan, anak-anak dan orangtua tanpa senjata yang ditembak secara babi-buta. Tidak ada berita tersedih yang pernah kudengar selain mereka yang diikat batu, dililit kawat lantas ditenggelamkan dalam keabadian semesta.
Doa Untuk kalian yang telah menulis sejarah negeri ini dengan darah dan airmata. Aku tak pernah lupa jika mereka melebihi Belanda!
Simpang KKA, 3 Mei 2019
Haikal Afifa

Sebelum Hasan tiro memberontak

15 September 1945 :
Sebelum Hasan tiro memberontak. Daud cumbok sudah melakukan kan. Namun sayang gerakan Daud cumbok di tumpas oleh republiken sejati tanpa bantuan dari batavia.arti nya pemberontak terhadap RI ditumpas oleh putra Aceh sendiri. Hasan tiro dan guru nya Tgk Daud beureueh adalah orang yg sangat gigih mempertahakan kan jabang bayi indonesia mardeka yg baru berumur hitungan Bulan itu.
Fitnah terhadap Daud cumbok yang tdk pernah terbukti itu menjadikan Aceh sebagai bagian dari NKRI. Hasan Tiro akhir nya menjadi pemberontak seperatis yg ingin mengembalikan Aceh kembali sebagai Negara berdaulat.sedangkan Daud beureuh memberontak hanya ingin menganti kan pancasila dengan syariat islam serta mengantikan imam dari imam sukarno ke Imam kartosuwiryo.
Teuku Muhammad Daud Cumbok, putra hulubalang Desa Cumbok, lahir tahun 1910, menentang kemerdekaan RI di Aceh. Pejuang kemerdekaan RI di Aceh, dipimpin Sjamaun Gaharu menyerbu Markas Daud Cumbok. Daud Cumbok meninggal. Dikenal sebagai ”Peristiwa Cumbok”, ini merupakan konflik pertama kali antara kelompok pro-RI dengan penentangnya.
Kelompok pro-RI dimotori pusa, sedangkan penentang bergabung dengan RI dimotori hulubalang daerah pidie. Di daerah ini belakangan dikenal sebagai basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) setelah Hasan Tiro ke luar negeri. Sebelumnya, pusat GAM di Pidie. Peristiwa ini sebenarnya antiklimaks dari pertentangan mereka sejak penjajahan Belanda (1910-1920).
Akhir 1949 Daud Beureueh bersikukuh untuk mendukung kemerdekaan RI. Bahkan, mengalang pengumpulan dana dari rakyat Aceh untuk membiayai pemerintah RI. Tempo dua bulan, terkumpul 500.000 dolar AS. Sebanyak 250.000 dolar AS disalurkan kepada angkatan perang RI, 50.000 dolar AS untuk perkantoran RI, 100.000 dolar AS untuk pengembalian pemerintah RI dari Yogyakarta ke Jakarta, dan 1000 dolar AS diserahkan kepada pemerintah pusat melalui AA Maramis.
Kemudian rakyat Aceh mengumpulkan 5 kg emas untuk membeli obligasi pemerintah untuk membiayai perwakilan Indonesia di Singapura, pendirian Kedutaan Besar RI di India dan pembelian dua pesawat terbang untuk transportasi pejabat RI.

Pembagian Suke suke di Aceh

Seri Sultan Alaiddin Riayat Sjah Alqahar yang memegang kerajaan dari tahun 1537 '_1568 membahagi golongan rakjatnja atas keasalannya yang dinamai kaum atau sukeë. Orang2 suku Hindu yang datang, tampaknya mebentuk 4 kesatuan dan berdiam di Tanoh Abeë, Lam Leuot.Pentja, Montasik dan Lam Nga .
Sebagai Kepala kaum dari mereka adalah
Radja Raden tinggal di Tanoh Abeë.
Orang2 yang berasal dari suku Batak/Karo membentuk kaum Ieë reuloih (kaum tiga ratus), dari suku Hindu Kling (Dagang) kaum Imeum
Peuët (Imam empat) dan orang2 asing lain : 'Arab, Parsi, Turki dll. dari sana-sini datangnya, membentuk kaum Tok Bateë (cukup batu).
Keluarga Sulthan sendiri termasuk dalam suku Tok Bateë. Kemudian barulah terjadi kaum ja Sandang yang berasal dari campuran (peranakan) suku Hindu dan Batak Kareë.
Penginkut2nja memeluk Agama Islam, dikepalai oleh 4 orang (panglima kaum), yang bergelar Imam. Imam2 inilah jang mendjadi penanggun'g jawab dari 4 kaum itu, yang pada akhir abad XIX masih djuga terdapat di Atjeh Besar.
Dalam pantun Atjeh ada disebut :
Kaum Iheë reutoih ban aneuk drang,
kaum Dja Sandang djeura haleba,
kaum tok bateë batjut-batjut,
kaum imeum peuët jang gok-gok donja.
Artinya:
A. Kaum tiga ratus, sebagai bidji drang, yang semacam pohon kacang tanah, tumbuhnya setelah musim memotong padi. matilah segala djerami, maka tumbuhlah sendiri pohon2 drang itu dengan suburnya, buahnya diatas seperti kacang hijau, tetapi bijinya lebih halus.
B.Kaum Dja Sandang, sebagai djeura haleba. haleba (bidji kelabat) warna kuning, bidji ini bahan pemasak kari guna menghilangkan bau
banjir pada daging atau ikan. bidji ini lebih besar sedikit dari bidji drang,
C. Kaum tok Bateë, bacut-bacut. jakni cuma sedikit saja.
D.Kaum Imeum peuët, yang gok2 donya, Gogok = guntjang. maknanja : Kaum ini berpengaruh besar dan memegang peranan penting
dalam pemerintahan.
jadi kaum Imeuem Peuët adalah kaum yang berpengaruh terbesar. Sesudah kaum ini. maka kaum tiga ratuslah yang dapat dipandang besar dan alasanya maka terbentuk kaum itu adalah sebagai beriku!
Orang2 suku Hindu dan Batak/Karo bersengketa karena suatu perkara zina. 300 Orang suku Batak/Karo berhadapan dengan 400 orang suku Hindu hendakmenyelenggarakannya persengketaan itu dengan mengangkat senjata.
Guna menghindari perang saudara ini.maka mereka memperoleh kata sefakat, bahwa orang yang bersalah itu dibawa kesatu arena (tanah lapang) disana akan dilakukan hukum adat, tetapi kemudian dapat dibebaskan.
Bila ia. diWaktu dilakukan tuntutan untuk membunuhnya, dapat melarikan dirinya kesalah satu kaum yang berada disekitar arena itu, yang kelak dapat menempatkannja dalam perkauman mereka, hal ini terjadilah sehingga kedua kaum yang dimaksud bersetia tolong menolong melindungi yang bersalah itu.
Sejak waktu inilah orang2 suku Batak/Karo disebut kaum tiga ratus dan orang2 suku Hindu yang menjadi kaum empat ratus.
Sukeë tok Bateë terbentuk dari orang2 asing lain : Arab, Parsi, Turki, Habsji.Kling dll.yang berturut2 diam di Atjeh.
Tentang terjadinja pun ada suatu ceritera pula yaitu : Sewaktu Sultan Alaiddin Riajat Sjah Alqahar membangunkan sebuah istana, maka dikerahkan Baginda rakjatnya berseraja membawa batu2 untuk keperluan itu. Orang orang bangsa asing turut juga melakukan pekerdjaan itu dan mereka ini yang lebih giat bekerja dan lekas mencukupi batu untuk keperluan pembangunan istana itu.
Sesudah batu2 penghabisan dibawa oleh orang2 asing ini. maka Suthan bertitah supaja menghentikan pekerdjaan itu, disebabkan batu sudah cukup (Tok Bateë). Sejak waktu itulah orang2 jang berasal dari bangsa asing digelarkan kaum Tok Bateë.
Suithan familie asalnyapun dari orang2 diluar Atjeh. umumnja dari orang2 Parsi,'Arab,Malaju dan Bugis, yang mempunyai pengetahuan memerintah secara Islam dan terpandang karena pergaulan dan bijaksananya, menurut sedjarah Melaju ada djuga turunan Radja Atjeh yang datang dari cempa.Kembodja,jadi Raja dan keluargaya termasuk dalam kaum Tok Bateë.
Djikalau ceritera orang dapat dipercaya. maka kaum Dja Sandang ada kemungkinan berasal dari seorang Radja Batak datangnya dari XXII
mukims. kampung Lam Panaih.Laweuëng, Kalé dan Pandei. dipesisir Selat Malaka.
Nama gelarnya diperolehnya dari seorang Sultan Atjeh. kerena ia mempersembahkan kepada Sultannja setiap tahun satu bambu
(pacok) yang berisikan tuak yang disandang dibahunya dengan seutas tali.
Kaum2 Dja Sandang. Iheë reutoih dan Tok Bateë untuk dapat mengimbangi kaum 400. selalu bersatu. Djuga kaum2 ini disebutkan kaum Iheë reutoih (kaum tiga ratus). Setiap kampung atau mukim biasanja didjumpai
orang2 jang berasal dari berbagai2 kaum. tetapi selamanja dikuasai oleh kaum jang orang2nja banjak mendjadi penduduknja.
Mereka jang terikat dalam satu kaum, berada dibawah kuasa dari atau satu kepala-famili jang bergelar Panglima kaum.
Kaum adalah sekeIuarganja jang dinamai djuga aneuk sukeë (anak suku). Dalam pemerintahan jang dahulu2 ada djuga terdjadi pertumpahan-darah jang dipersengketakan antara kaum 300 dengan kaum 400.
Manakala terjadi persengketaan ini.maka masing-masing anak kaum mencari kaumnya yang merupakan tali Famili. Dimasa yang begini rupa. maka perkawinan antara kaum dimaksud tidaklah dilakukan orang.
Dalam masa peperangan dengan Portugis dan sampai kepada Belanda mareka melupakan perselisihan sesamanja untuk kepentingan negara (tarich aceh dan nusantara HM zainuddin.ft suke di gayo)

Agresi ke - II Belanda di Aceh

Agresi ke - II Belanda di Aceh (Atjeh de Orloog)
Oleh: Paul Van't Veer.
Ekspedisi yang pertama telah gagal karena tindakan yang tergesa-gesa, dengan perlengkapan yang sangat buruk dan ketiadaan rencana peperangan. Anggaran Belanda Hinda-Belanda telah dinaikkan dengan 5,5 juta golden, lebih dari setengahnya adalah untuk marinir yang memperlihatkan gambaran yang buruk sekali.
Untuk keperluan Hindia di negeri Belanda sedang diusahakan mengerahkan dua ribu orang lebih banyak dari kekuatan yang telah ada. Karena desas desus mengenai tugas-tugas berat ke Aceh menembus ke Eropa, maka dengan segera terpaksalah uang-uanh dilipat gandakan menjadi 400. Pada pihak perwira-perwira Belanda terdapat banyak pekerjaan Untuk di tempatkan diseberang lautan mereka itu memperolah hadiah sebanyak 1500. Namun perwira-perwira kesehatan belumlah dapat dikerahkan secukupnya meskipun hadiah mereka dinaikkan sampai 4500.
Sungguh upah yang sangat tinggi pada masa itu.

Perhatian sepenuhnya ditujukan terhadap masalah persenjataan. Pasukan artileri memiliki 72 pucuk meriam. Ditambah lagi dengan dua buah pucuk senapan yang paling mutakhir pada masa itu. Dari betawi dibawa pabrik roti uap yang lengkap, akan tetapi karena beberapa kerusakannya pabrik itu tidak dapat di pergunakan, sehingga lebih kurang 3000 anggota militer Eropa dengan menggerutu harus memilih makan biskuit kapal yang sangat keras atau makan nasi. Begitu juga halnya dengan kereta api kecil dengan relnya sepanjang 6 Km serta 6 buah gerbongnya. Adanya pompa-pompa modern, dua buah jembatan besi dan sebuah pangkalan sementara, sebuah bengkel pambuat senapan, sebuah tempat pemeriksaan air sebuah bengkel besi dsb.,dsb., semuanya menunjukkan adanya organisasi sempurna seperti belum pernah dialami di Hindia-Belanda.

Akhirnya kekuatan tentara untuk Aceh berjumlah lebih kurang 13.000 orang. Diantaranya 389 orang perwira, 8.156 orang bawahan, 1.037 orang pembantu perwira, 3.280 orang hukuman kerja paksa dan 243 orang wanita. Mereka itu diberangkatkan dari berbagai kota garnisun di jawa ke Aceh. 19 buah kapal pengangkut telah disewa, semua apa yang diperdapat di Betawi dan Singapure, dan dalam jumlah itu termasuk juga kapal-kapal asing seperti 'Maddaloni' milik Jenderal Italia Nino Bixio.
Satu perjalanan dengan orang-orang mati di kapal, bukan sebagai panjar atas kesulitan-kesulitan yang akan di temui di Aceh akan tetapi sebagai warisan wabah kolera yang periodik, yang pada penghujung bulan oktober 1873 baru saja melanda Betawi, yang juga di gunakan oleh Belanda nantinya di untuk membunuh pejuang2 Aceh, ribuan orang yang sedang naik ke kapal menjadi mangsa yang paling empuk sekali bagi penyakit itu. Keberangkatan yang tadinya 1 Nopember di tunda sampai 10 hari, sedang pada hari keberangkatan itu tidak ada upacara-upacara yang tadinya di rencanakan, di kapal sudah tercatat 60 orang mati, dan sekali mereka mendarat jumlah korban semakin bertambah setiap hari. hujan turun tak henti-hentinya tempat-tempat berteduh menjadi becek dan kekurangan dokterpun segera terasa.
Pada taggal 9 desember salah satu dari brigade itu (yang keempat telah dikirim ke padang sebagai cadangan), setelah melakukan latihan perang-perangan semua di Padang. Kemudian mereka didaratkan kembali di pantai aceh yang berawa-rawa. Setelah melakukan peperangan dengan cukup hati-hati, barulah setelah 14 hari pasukan induk dapat bermarkas didekat kampung Peunayong.
Pada akhir desember 1873 meninggal 150 orang penyakit kolera dan 500 orang pasien dirawat di tenda-tenda yang berpindah-pindah harus ketempat kering sebanyak 18 orang perwira dan 200 orang bawahan harus diangkut ke padang dalam keadaan sakit karena rumah sakit darurat tidak dapat menampung lagi. Dengan demikian, maka sebelum ekspedisi itu memulai tugasnya, ia telah kehilangan sepersepulah lebih kekuatannya.

Jan van Swieten

Sebelunya mereka mendarat, Van Swieten mengirim utusannya dengan membawa surat-surat kepada Sultan yang masih muda itu serta penasihat-penasihatnya. Surat-surat itu di ajukan supaya sultan menyerah, tetapi tidak di jawab sedang utusan-utusannya di bunuh. Setelah pasukan mendarat, memang ada beberapa pemuka rakyat yang rendah kedudukannya didaerah pantai datang manyerah. Di antara mereka itu adalah kepala daerah Meuraxa bernama Teuku Ne'. di luar daerah Aceh ia disebut 'Raja'. Akan tetapi disini dinamakan Ulee Balang.
Setelah mengalami beberapa buah peperangan di pantai ketika menuju peunayong, tempat didirikannya markas besar yang tetap, maka pada tanggal 6 januari mulailah Van Swieten melakukan serangan besar-besaran yang pertama. Serangan tersebut di tujukan ke Masjid Raya yang kini untuk ketiga kalinya harus di rebut oleh tentara Hindia Belanda, dalam tempo sepuluh bulan. Lagi-lagi diderita kekalahan yang besar, Serangan itu di lakukan oleh sebuah brigade lengkap yang terdiri 1.400 orang, pada akhir serangan tercatat dua ratus orang serdadu menderita luka parah dan 14 orang perwira luka. Sungguh kerugian bagi Belanda yang cukup besar, Van Swieten malah telah menghitungnya dgn angka-angka kerugian lain. Disini dalam sehari saja sepertujuh brigadenya sudah tak terpakai lagi. Oleh karenanya dalam menghadapi serangan-seranga ke Dalam (istana) ia mempersiapkan kembali penyelidikan-penyelidikan yang lebih sempurna serta melakukan tembakan yang terus menerus. Atas Nasehat Teuku Ne' dilakukan pengepungan terhadap Dalam. Lobang-lobang perlindunganpun digali dan kedalamnya ditempatkan meriam-meriam besar. Juga sekoci-sekoci yang di perlengkapi dengan meriam-meriam kecil turut mengambil bahagian dalam serangan-serangan itu. Akhirnya setelah di beri syarat untuk menyerang Dalam pada tgl 24 januari 1874 di ketahuilah pada malam harinya lawan telah menyingkir dari tempat itu. Daerah Dalam yang bertembok itu dgn bangunan-bangunan besar dan kecil yang telah menjadi reruntuhan dan tak ada sebuah pun yang menyerupai istana lagi yang telah jatuh ke tangan tentara Hindia-Belanda tanpa perlawanan apa-apa.
Di Betawi dan Negeri Belanda Perebutan Dalam Dianggap sebagai sukses terpenting yang telah di capai oleh ekspedisi. Dendam pada bulan April 1873 telah dibalas pada bulan januari 1874.
Van Sweiten karena gembiranya memerintahkan tentara memainkan musik lagu Wien Neerlandsch bloed (barang siapa yang berdarah india) seta mengedarkan bendera kampanye kepada para perwira yang sengaja di bawa untuk maksud tersebut. Perintah harian yang di tujukan kepada para pasukannya disusun dengan gaya bahasa tentara yang seindah-nya. ('Dalam Sultan Aceh tekah kita miliki dan bangsa Aceh yang perkasa itu telah tunduk kepada keberanian dan kecakapan anda berperang').
Di Den Haag Staats-Courant' (koran negara) Belanda telah menerbitkan nomor istimewa dengan selebaran yang berjudul "Dalam Sultan Aceh telah kita miliki". Di gedung-gedung pemerintah di kota-kota di HIndia dan negeri Belanda dikibarkan bendera; pada malam harinya di pasang bunga-bunga api, sementara di gedung kesenian Kerajaan di Den Haag setelah musik di memperdengarkan lagu-lagu penghormatan, dinyanyikan lagu kebangsaan dan setiap orang saling berpandang-pandangan dengan air mata yang berlinang-linang.
Akan tetapi kemenangan tidaklah dimulai dari Dalam Sultan Aceh. Berlainan sekali dengan adat kebiasaan negara2 lain, maka kehilangan tempat kediaman Sultan dalam memerangi Aceh tidaklah berarti apa-apa. Bahkan kemangkatan sultan muda itu akibat penyakit kolera yang diimpor oleh tentara Hindia-Belanda tidak sedikitpun menimbulkan perbedaan semangat perjuangan pada pihak-pihak Aceh. Tembakan-tembakan gencar terhadap Dalam, Mesjid Raya dan serangan-serangan terhadap tempat-tempat kedudukan tentara Hindia-Belanda di teruskan siang dan malam oleh pejuang-pejuang Aceh. Orang-orang Aceh yang tidak memiliki pasukan-pasukan yang teratur, paling banyak mereka berperang dalam jumlah puluhan atau ratusan orang, akan tetapi demikianlah mereka itu memulai peperangan gerilya seolah-olah telah berlatih secara mahir untuk maksud-maksud tersebut.
sumber

Salah Paham Terhadap Aceh

"Salah Paham Terhadap Aceh"
Oleh: Sarah Mantovani, SH.
Tulisan ini tak bermaksud untuk membuka kembali luka lama Aceh tetapi hanya untuk meluruskan sejarah yang ada.
Kenapa harus Aceh?.
Pencarian saya tentang sejarah Aceh berawal dari kesalahpahaman teman saya di Kairo dengan mahasiswa Aceh yang juga teman saya di Kairo, bahwa mahasiswa Aceh di sana itu eksklusif, tertutup, dan suka membanggakan suku sendiri (contohnya seperti penyebutan masyarakat Aceh yang berubah menjadi rakyat Aceh). Seketika timbul pertanyaan di benak saya : Kenapa dengan orang Aceh? Ada apa dengan mereka? Apa sebabnya teman saya mengatakan seperti itu?. Lalu, saat saya meminta klarifikasi langsung dari salah satu teman saya yang menjadi mahasiswa Aceh di sana via Facebook, saya mendapatkan satu kesimpulan bahwa “Orang Aceh pernah punya pengalaman buruk di masa lalu dengan orang Jawa”. Dan saat itu saya baru teringat bahwa teman saya yang salah paham itu adalah orang Jawa.
Pada awalnya pun saya sempat agak terpengaruh juga dengan ucapan teman saya karena jujur saja, saya paling tidak suka dengan orang yang sukuis (membanggakan suku sendiri lebih baik dari suku yang lain) tapi saya juga tidak bisa menilai dari satu pihak saja, saya harus mencari sendiri apa penyebabnya.

Pikiran saya langsung tertuju pada cerita teman saya yang mahasiswa Aceh bahwa, “Mereka yang di kuburkan di kuburan Kherkof Belanda di Aceh kebanyakan adalah orang-orang Pribumi, bisa dikatakan orang-orang Jawa yang meninggal di Aceh karena termakan taktik devide et impera-nya Tentara Belanda juga ikut di kubur di situ”. Tak hanya itu, saya langsung teringat dengan komentar Pramudya Ananta Toer terhadap Novel Bidadari Hitam yang di tulis oleh T.I Thamrin-orang Aceh asli, “Setiap kali ada yang datang dari suku Aceh, saya selalu minta maaf sebagai orang Jawa. Sudah lebih 100 tahun orang Jawa memerangi Aceh, saya ikut-ikutan bersalah…”.
Dialog-dialog yang ada di dalam Novel tersebut pun membuat saya jadi makin penasaran dengan apa yang terjadi pada Aceh di masa lalu…

“Tidak, nong. Nama kita semua adalah Aceh. Karena itu kita memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di mata orang Jakarta. Aceh yang pernah menolong dan memberi makan mereka, membelikan mereka 2 pesawat terbang, membiayai NKRI yang lagi terjepit ekornya. Tapi, ketika mereka sudah berani mengambil sendiri di lumbung kita, mereka melecehkan, memburu dan membunuh kita seperti kecoak. Kita bilang, silahkan ambil tapi jangan mencuri dan jangan kemaruk, lalu mereka marah besar, menuduh kita pemberontak, karena itu wajib dibunuh. Perempuan kita yang melawan juga diburu dan diperkosanya, seperti tak malu pada Ibu dan saudarinya sendiri. Seperti Ibu dan saudarinya bukan perempuan saja.”.
Timbul banyak pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh saya, “Ada apa dengan Aceh pada masa lalu? Kenapa Aceh pernah sangat ingin memisahkan diri dari NKRI? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Alasan apa yang menyebabkan Aceh sampai ingin bergabung dengan NII dan mendirikan DI/TII atau GAM? Kenapa Pemerintah pada jaman dulu (era Presiden Sukarno sampai Presiden Megawati) harus bertindak brutal, kejam dan sadis hanya karena ingin mempertahankan Aceh untuk tetap di wilayah NKRI? Kenapa cara-cara tersebut harus di lakukan oleh Pemerintah?”
Dan dari situ saya baru menyadari bahwa ada potongan sejarah lain yang belum saya ketahui dari Aceh.

Aceh masa lalu adalah Sebuah Negara.
Tak etis rasanya bila saya tidak menceritakan saat Aceh masih menjadi sebuah negara yang berdiri sendiri.
Sejarawan Said ‘Alawi Thahir al-Haddad dalam bukunya “Al-Madkhal ilaa Taarikh al-Islam fi al-Syarq al-Aqsa” menyebutkan satu dokumen kuno dari Dinasti Yang di Cina, yang menceritakan pada tahun 518 M telah datang kepada raja Cina utusan dari kerajaan Puli yang terletak di ujung utara pulau Sumatera (kerajaan Puli adalah kerajaan Puli atau Indra Puri yang memang telah ada di Aceh sebelum Islam datang. Namun, karena kesulitan mengucap huruf R dalam dialek Cina, maka berubah menjadi L sehingga tertulis “Puli” dalam dokumen Dinasti Yang tersebut. Sisa-sisa dari kerajaan ini masih bisa ditemukan di kawasan Indra Puri, Aceh Besar). Dokumen ini juga menceritakan bahwa kerajaan Puli terbagi dalam 136 wilayah dengan luas wilayah 50 hari perjalanan kaki dari utara ke selatan dan 20 hari perjalanan kaki dari barat ke timur. Dokumen ini membuktikan bahwa sejak abad ke-6 M, orang-orang yang mendiami daerah pesisir Aceh telah mengenal suatu tata cara kehidupan yang berperadaban cukup maju dibanding kawasan-kawasan lain di Nusantara, kecuali kawasan pinggiran sungai Mahakam di Kalimantan Timur, dimana kerajaan Hindu Kutai telah berdiri sejak abad ke 5 M, begitu juga kawasan Jawa Barat dengan kerajaan Taruma Negaranya.

Daerah pesisir utara Aceh mulai disinggahi para pedagang Muslim dari Malabar di India atau langsung dari Jazirah Arab pada abad ke-7 M (1 H), sebagaimana disebutkan L. Van Rijck Vorsel dalam bukunya “Riwayat kepulauan Hindia Timur”. Ia juga menyebutkan bahwa orang-orang Arab telah lebih dahulu tiba di Sumatera 750 tahun sebelum kedatangan Belanda ke sana.
Namun, kerajaan Islam baru muncul pada awal abad ke-9 M. Di antara kerajaan-kerajaan Islam yang pertama di Aceh adalah kerajaan Peureulak di pesisir timur Aceh yang berdiri pada tahun 804 M, kerajaan Lamuri dan Samudra Pasai di pesisir utara Aceh.
Pada awal abad ke 16 M, berdirilah kerajaan Islam Aceh Darussalam yang berbentuk kesultanan Aceh dengan raja pertamanya Sultan Ali Mughayat Syah (1513-1530) putra dari sultan Syamsu Syah dan cucu dari sultan Inayat Syah dari kerajaan Lamuri. Kerajaan Aceh Darussalam yang lahir pada tanggal 12 Dzulqa’idah 916 (1513 M) adalah sebuah kerajaan Federasi yang terdiri dari kerajaan Islam Peureulak, kerajaan Islam Samudra Pasai, kerajaan Lamuri, kerajaan Islam Lamno Jaya, kerajaan Islam Lingge, kerajaan Islam Pedir dan kerajaan Islam Teuming. Peleburan kerajaan-kerajaan Islam Aceh dalam satu wadah itu kemudian diberi nama kerajaan Aceh Raya Darussalam, atau lebih dikenal dengan proklamasi Samudra Pasai.
Kerajaan Aceh Darussalam mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Ia mampu menempatkan kerajaan Islam di Aceh pada peringkat kelima di antara kerajaan terbesar Islam di dunia pada abad ke 16. Kelima kerajaan Islam tersebut adalah kerajaan Islam Turki Utsmani di Istanbul, kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara, kerajaan Islam Isfahan di Timur Tengah, kerajaan Islam Akra di India dan kerajaan Aceh Darussalam di Asia Tenggara. (Mutiara Fahmi, tesis: Gerakan Kemerdekaan di Aceh dalam pertimbangan Hukum Islam, 2006, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hlm. 70-72)
Lalu kenapa Aceh pernah sangat ingin memisahkan diri dari NKRI?
Berikut ini adalah beberapa faktor kenapa Aceh pernah ingin memisahkan diri dari NKRI:
Sikap pemimpin RI yang dipandang oleh Tgk. Daud Beureueh telah menyimpang dari jalan yang benar.

Karena pada waktu itu Presiden Sukarno pernah berjanji memberikan hak kepada Aceh untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan syari’at Islam dan janji tersebut tak pernah diwujudkan. Hal ini diperkuat oleh pengakuan saksi dan pelaku sejarah Tgk. H. Syech Marhaban Hasan yang menceritakan, saat kunjungan Soekarno ke Aceh, Soekarno pernah meminta kepada Tgk. Daud Beureueh untuk membantu perang bersenjata antara Indonesia dengan Belanda, Daud Beureueh menyanggupi asalkan dengan 2 syarat : perang yang dikobarkan adalah perang Fisabilillah dan rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan syari’at Islam di dalam daerahnya apabila perang telah usai. Akhirnya Soekarno menyanggupi 2 syarat tersebut, Namun, Daud Beureueh meragukan janji Soekarno dan meminta Soekarno untuk menuliskan janjinya tersebut di atas secarik kertas. Melihat hal itu, Soekarno langsung menangis terisak-isak dan merasa tidak dipercaya. Melihat Soekarno menangis, Daud Beureueh menjadi terharu dan kemudian berkata, “Bukan kami tidak percaya saudara presiden. Akan tetapi, hanya sekedar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang”. Lalu Soekarno menyeka air matanya dan menjawab: “Wallahi, Billahi, kepada Daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai syari-at Islam. Dan Wallahi, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat melaksanakan syari’at Islam di dalam daerahnya”. Menurut keterangan Daud Bereueh, karena iba hatinya melihat Presiden menangis terisak-isak, dirinya tak sampai hati lagi meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji Presiden Soekarno. (Ibid, hlm. 119-121)
Kekecewaan rakyat Aceh saat status propinsi Aceh yang belum genap berumur setahun dibubarkan oleh kebijakan Pemerintah Pusat dan menggabungkannya dengan Propinsi Sumatera Utara (yang berbeda latar belakang serta kebudayaannya) dengan alasan yang cukup ironis yaitu karena bertentangan dengan hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang hanya mengakui 10 propinsi dalam wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS). Padahal, RIS itu sendiri justru lahir dan mendapat pengakuan Internasional karena masih adanya Aceh sebagai satu-satunya wilayah modal Indonesia yang tidak dapat kembali di duduki oleh Belanda dalam perjuangan fisik. (Ibid, hlm. 121)
Saat Aceh masih menjadi sebuah Negara, Aceh tidak pernah menyerahkan kedaulatannya kepada Belanda, sehingga secara hukum, Aceh bukan Hindia Belanda dan dengan demikian saat Hindia Belanda menjadi Indonesia, Aceh tidak secara otomatis berada di dalamnya. Menurut teori Ilmu Negara dan Hukum Internasional, bangsa dan Negara Aceh belum lebur tapi bermasalah. Hilangnya status suatu bangsa dan negara menurut Sofyan Ibrahim Tiba, SH (juru runding Gerakan Aceh Merdeka) karena satu dari dua alasan, yaitu alasan alam, seumpama buminya hancur atau tenggelam. Dan alasan sosial politik, jika negara atau bangsa itu telah menggabungkan diri ke dalam atau bersama bangsa lain. Oleh karena itu, menurut GAM, penggabungan Aceh ke dalam Indonesia saat proklamasi 17 Agustus 1945 belum sah dan merupakan kekeliruan ketata-negaraan. Aceh menurutnya, sejak proklamasi tidak pernah menyatakan bergabung dengan NKRI seperti halnya Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman melalui keputusan Kotikokootai (Dewan Perwakilan Rakyat) tanggal 19 Agustus 1945. (Ibid, hlm. 141-142)
Karena perlakuan tidak adil dari pemerintah pusat terhadap Aceh. Seperti sikap sentralistik pemerintah Orba terhadap Aceh yang telah melahirkan kesenjagan sosial-ekonomi yang cukup mencolok di daerah istimewa Aceh. Sebagai contoh, penerimaan APBD propinsi Daerah Istimewa Aceh tahun 1997/1998 hanya berkisar 150 milyar dari +/- Rp. 32 triliun yang disumbangkannya untuk negara pada tahun yang sama. Artinya, apa yang diterima Aceh tidak sampai 0,5 % dari total yang disumbangkannya. (lihat Said Mudhakar Ahmad, Masalah Aceh: Dilema antara Sikap, Martabat dan Rasa Keadilan, Waspada (Harian), Medan 31 Agustus 1998). (Ibid, hlm. 82).
Alih-alih ingin mengamankan situasi dari tindakan suatu gerakan yang disebut pemerintah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM), banyak korban sipil yang menjadi korban pelanggaran HAM berat dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against Humanity) dalam pemberlakuan status DOM tersebut. Seperti adanya pembunuhan, adanya penyiksaan atau penganiayaan baik secara fisik maupun mental, adanya penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang, adanya kekerasan seksual, adanya penghilangan paksa dll. (untuk mengetahui lebih jauh tentang jumlah korban DOM, lihat buku yang ditulis oleh Al-Chaidar, (Ibid, hlm. 84).
Karena efek dari kesalahpahaman teman saya inilah yang akhirnya membuat saya menjadi jatuh cinta pada Aceh dan masa lalunya. Seharusnya mereka yang kontra terhadap pemberlakuan syari’at Islam di Aceh dengan alasan karena terbentur dengan undang-undang yang ada di atasnya bisa mengingat kembali janji dan sumpah Presiden Sukarno dulu terhadap Tgk Daud Beureueh-khususnya pada rakyat Aceh.
Oleh: Sarah Mantovani, SH.

Benarkah Aceh Adalah Negara Berdaulat ?

Benarkah Aceh Adalah Negara Berdaulat 
Oleh : Fachruddin S. Bsc

Berdaulat artinya mempunyai hak dan kekuasaan, mempunya struktur pemerintahan dan sebagainya sehingga layaknya negara pada galibnya. Terkait dengan Aceh yang tak pernah putus diperbincangkan baik oleh anak negeri maupun oleh penduduk manca negara tentang masalah kedaulatan ini, bagaimanakah yang sebenarnya ? 

Sejarah. Ya, sejarah memang suatu rangkaian kisah yang tak pernah bohong. Sejarah yang penuh dengan fakta dan bukti. Bermula dari tanggal 26 Maret 1873, Belanda mengeluarkan Maklumat perang dengan Aceh. Sejak itu (1873) hingga sekarang (2015) tidak ada catatan yang menyatakan siapa yang kalah atau siapa yang menang akibat perang yang di maklumkan oleh pihak belanda. Sejarah menjadi kabur (atau sengaja dikaburkan ?) ketika wilayah hindia belanda diserahkan kepada pemerintah RI oleh belanda di awal-awal kemerdekaan Republik Indonesia. 

Maklumat Perang Belanda Terhadap Aceh
Seperti yang kita maklumi, Raja Aceh terakhir yang berkuasa adalah Sultan Iskandar Tsani. Ketika itu Belanda sudah kehabisan akal menaklukkan Aceh karena perlawanan rakyat terjadi dimana - mana secara sporadis dengan pimpinan wilayah masih masing. Fakta ini diakui oleh Belanda dalam berbagai tulisan yang dipublikasikan. 

Upaya terakhir Belanda untuk menaklukkan Aceh adalah dengan cara yang sangat licik, yakni menawan keluarga Sultan Iskandar Tsani. Belanda memberi ultimatum, jika raja tidak menyerahkan diri maka seluruh keluarganya yang sudah ditangkap Belanda akan dihabisi. Mengetahui hal demikian, Sultan segera melakukan pertemuan dengan para petinggi kerajaan. Sultan memberi tahu bahwa ia harus menyerah kepada Belanda agar keluarganya tidak dibunuh. Hasil pertemuan itu mempersilahkan Sultan menyerahkan diri, tetapi Hak Memerintah Kerajaan (Kedaulatan) Harus diserahkan pada orang lain. 


Cap Sikureung
Singkat cerita, dibuatkan arakata (Berita Acara) penyerahan kedaulatan Kerajaan Aceh beserta dengan hak segala kewajiban kepada "Tuha Peut" Surat Berita Acara itu diserahkan beserta dengan stempel "Cap Sikureung". Setelah itu Sultan lengkap dengan pengawalnya mendatangi pihak Belanda untuk menyerahkan diri. 

Ketika Sultan sudah menyerahkan diri, Belanda melaksanakan pesta yang sangat meriah tujuh hari tujuh malam. Kemudian Belanda memanggil Sultan dalam suatu acara khusus.Saat itu Sultan baru mengetahui bahwa acara khusus itu adalah acara penyerahan kedaulatan Aceh kepada Belanda. Sultan langsung memberi tahu Belanda bahwa beliau tidak mempunyai Hak apa-apa lagi terhadap Aceh. Beliau tidak lagi sebagai Raja karena kedaulatan Aceh telah diserahkan kepada "Tuha Peut" sebelum beliau datang menyerahkan diri. Dan karena itu beliau tidak berhak untuk menyerahkan kedaulatan Aceh kepada siapapun sesudahnya. Kini yang berhak adalah "Tuha Peut" 

Belanda menjadi sangat murka. Sultan dan keluarganya langsung diasingkan keluar Aceh. Mulailah Belanda memburu pemegang mandat Kedaulatan Aceh. "Tuha peut" yang menerima yang menerima mandat kedaulatan Aceh pun satu persatu gugur dimedan perang. Dan tentu saja sebelum ajal para pemegang mandat menyerahkan pula mandat itu kepada orang lain lagi yang masih sehat wal afiat. Demikianlah yang terjadi terus menerus dalam artian mandat kedaulatan itu berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dimana yang terakhir diketahui mandat Kedaulatan Aceh berada ditangan Tengku Mat Tiro. Dan akhirnya Tengku Mat Tiro pun tewas ditembak Belanda dikaki Gunong Kong tempat dimana Tgk. Hasan Muhammad di Tiro memproklamirkan Perjuangan Aceh Merdeka tempo hari. Dan sudah pasti pula, ketika beliau (Tgk. Mat Tiro) digeledah, ditemukan Berita Acara penyerahan kedaulatan Aceh pada beliau. Peristiwa itu terjadi pada 4 Desember (1900?). Sesudah peristiwa itulah perburuan terhadap pejuang Aceh diakhiri oleh Belanda. 

Pertanyaannya, hukum atau undang-undang negara manakah yang mengatakan memiliki hak sah terhadap barang yang dirampok ? Jika demikian, sah kah barang rampokan itu diserahkan untuk dimiliki pihak lain ? Apakah fakta sejarah bisa dibohongi ? 

Akhirnya, Sejarah yang tak bisa dibohongi itu terungkap ke publik. Berita Acara penyerahan Kedaulatan Kerajaan Aceh kepada pihak Tuha Peut Kerajaan Aceh tersimpan dengan baik di Negeri Belanda. Nah 

Pertanyaan berikutnya : Bagaimana kini status Kerajaan Aceh dalam Indonesia ? Pewaris Kerajaan Aceh masih pasti masih ada, bagaimana pula Kedaulatan Aceh dapat kembali kepada Pewarisnya? 

Paling akhir, bagaimana lanjutannya terserah kepada pembaca untuk menapak tilas sejarah itu sendiri. Sejarah selanjutnya akan tersaji bagi generasi berikutnya, dan itu pasti, tak bisa dibohongi oleh siapapun.

Pusara Sultan Alauddin Riayat Syah Ditemukan


Pusara Sultan Alauddin Riayat Syah Ditemukan
image :
BANDA ACEH - Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) mengaku telah menemukan pusara Sultan Alauddin Riayat Syah di Gampong Ulee Kareueng, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Minggu (11/1). Keyakinan terhadap pemilik pusara tersebut setelah ahli Epigraf Aceh Taqiyuddin Muhammad berhasil menerjemahkan inskripsi (tulisan di nisan) kompleks pemakaman itu.

Ketua Mapesa Muhajir kepada Serambi mengatakan makam Sultan Alauddin Riayat Syah ditemukan saat Mapesa bergotong royong di kawasan situs cagar budaya, kompleks makam kuno peninggalan Kerajaan Aceh di daerah itu. “Pada salah satu nisan memuat inskripsi yang menerangkan nama Sultan Alauddin Riayat Syah,” katanya, Selasa (13/1).

Muhajir menerangkan, di kepala nisan tersebut terpahat tulisan dalam aksara jawi yang berbunyi “Sri Sulthan ‘Alauddin Ri’ayah Syah Dhzilullahi Fil’alam, min hijratunnabi shallallahu ‘alaihi wasallam sembilan ratus sembilan puluh tiga tahun (993 H/1585 H).” Aksara tersebut berhasil diterjemahkan oleh ahli Epigraf Aceh Taqiyuddin Muhammad.
“Dari bacaan inskripsi tersebut, beberapa literatur Sultan Alauddin Riayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam pada era 16, besar kemungkinan Sultan Alauddin Riayat Syah yang dimakamkan di Gampong Ulee Kareueng adalah kakek dari Iskandar Muda, yang masih misteri selama ini,” jelasnya.

Muhajir menambahkan, hamper semua pusara yang ditemukan di area tersebut merupakan para tokoh-tokoh besar Kerajaan Aceh tempo dulu. Itu sebabnya, dia menyarankan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menjadikan daerah itu sebagai kawasan destinasi wisata Islami. “Kita hanya bisa berharap Pemerintah Aceh Besar bisa memugar
http://aceh.tribunnews.com/2015/01/14/pusara-sultan-alauddin-riayat-syah-ditemukan

De Houtman dan Kisruh Aceh



Ilustrasi kedatangan de Houtman ke Aceh
Kisruh Aceh dengan Belanda bermula dari urusan dagang. Penahanan Houtman bersaudara jadi pemicu. Belanda pun meminta maaf kepada Aceh.

Dua kapal Belanda yang dinahkodai oleh dua bersaudara Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman, ditawan oleh kerajaan Aceh. Penahanan itu dilakukan di bawah pimpinan Laksamana Keumalahayati. Peristiwa ini diabadikan dalam berbagai buku oleh sejarawan Belanda seperti Van Zeggelen (1835), Davis dan Jacob (1894) dan PA Tiele (1881)

Tiele dalam buku “Frederick de Houtman te Atjeh” terbitan De Indische Gids 1881 mengungkapkan, pada 21 Juni 1599 dua kapal Belanda yang bermana de Leeuw dan de Leeuwin berlabuh di pelabuhan ibu kota kerajaan Aceh. Kedua kapal tersebut masing-masing dipimpin oleh dua bersaudara, yaitu Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman.

Mulanya kedua kapal itu mendapat sambutan baik dari pihak Aceh karena diharapkan akan dapat membangunan perdagangan yang baik dengan harga yang baik dari rempah-rempah dan hasil alam lainnya di kerajaan Aceh, khususnya perdagangan lada.

Namun dalam perkembangannya, akibat hasutan oleh seorang berkebangsaan Portugis yang sudah lebih dulu dekat dengan pihak Kerajaan Aceh, sehingga dijadikan penerjemah sulthan, mereka jadi tidak disenangi oleh sulthan. Pihak Aceh kemudian melakukan penyerangan terhadap de Houtman bersaudara yang sedang berada di kapal mereka. Yang menjadi pimpinan penyerangan itu tak lain adalah Laksamana Keumalahayati. Dalam penyerangan itu, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh, sementara Frederick de Houtman ditawan dan dijebloskan ke dalam tahanan Kerajaan Aceh.

Frederick de Houtman mendekam dalam penjara kerajaan Aceh selama dua tahun. Dalam masa itu ia berhasil menyusun sebuah karya ilmiah berupa kamus Melayu – Belanda yang merupakan kamus Melayu – Belanda pertama dan tertua di dunia.

Tidak berapa lama setelah peristiwa itu, pada tanggal 21 November 1600 datang lagi utusan dagang Belanda ke Kerajaan Aceh dengan dua buah kapal yang dipimpin oleh Paulus Van Caerden. Kedatang misi dagang kedua Belanda ini juga membawa petaka dan dinilai tidak bersahabat oleh Kerjaan Aceh, sehingga orang-orang Belanda itu diserang dan ditawan oleh Keumalahayati.

Tentang peristiwa itu ditulis Wap (1862) dalam buku “Het Gezantschap van de Sultan van Achin A” dan F Valentijn (1862) dalam buku “Oud en Nieuw Oos Indie I”. Keduanya mengungkapkan, sebelum memasuki perairan Aceh, kedua kapal Belanda itu melakukan tindakan yang ceroboh, yakni menenggelamkan sebuah kapal dagang Aceh setelah terlebih dahulu memindahkan segala muatan lada dari kapal itu ke dalam kapal-kapal mereka dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan pantai Aceh. Hal itu membuat Sulthan Aceh berang.

Setelah peristiwa itu datang lagi rombongan kapal Belanda ke Aceh di bawah pimpinan Laksamana Jacob van Neck. Mereka tidak mengetahui apa yang telah dilakukan van Carden sebelumnya. Ketika merapat di pelabuhan Kerajaan Aceh pada 31 Juni 1601, mereka memperkenalkan diri sebagai orang dari Bangsa Belanda dan datang ke Aceh untuk berdagang dan membeli lada.

Begitu mengetahui bahwa rombongan itu adalah rombongan Belanda, Laksamana Keumalahayati langsung memerintahkan pasukannya untuk menahan mereka dan memperlakukannya secara tidak baik. Laksamana Keumalahayati menjelaskan kepada mereka bahwa dua buah kapal Belanda yang datang sebelumnya telah menenggelamkan sebuah kapal milik Aceh dan membawa sejumlah lada tanpa bayaran, karena itu sebagai ganti rugi, Sulthan Aceh memerintahkan untuk menawan setiap kapal Belanda yang datang ke Aceh. Tentang peristiwa itu juga ditulis Julius Jacobs dalam “Het Familie en Kampoengleven op Groot Atjeh” terbitan Leiden, 1894.

Menjelang tahun 1602 pedagang-pedagang dari Belanda di bawah pimpinan Geral de Roy dan Laurent Bicker dengan beberapa kapal tiba di pelabuhan Aceh. Mereka sengaja datang ke Aceh atas perintah Pangeran Maurist untuk menjalin hubungan persahabatan dengan Kerajaan Aceh.

Mereka membawa sepucuk surat dan beberapa hadiah dari Pangeran Maurist untuk sulthan Aceh. Dalam surat itu Pangeran Maurist mengakui baiknya sambutan Kerajaan Aceh terhadap para pedagang dari Belanda ketika mereka pertama kali datang ke Aceh. Karena adanya hasutan dari pihak luarlah Sulthan Aceh dan bala tentaranya menjadi bertindak tidak baik terhadap para tamunya tersebut.

Dalam surat itu Pangeran Maurist juga meminta kepada Sulthan Aceh untuk tidak mempercayai lagi hasutan-hasutan dari pihak luar. Ia memohon agar Sulthan Aceh mau membebaskan kembali orang-orang Belanda yang sedang ditawan di penjara Kerajaan Aceh.

J K J De Jonge (1862) dalam buku “De Opkompst van het Nederlandsch Gezag in Oost-Indie” menjelaskan, Laurens Bicker sebagai salah seorang pimpinan rombongan misi Belanda yang membawa surat Pangeran Maurist untuk Sulthan Aceh itu juga meminta maaf atas dan menyesali perbuatan yang dilakukan oleh Van Caerden dan kawan-kawan dahulu yang menenggelamkan kapal Aceh setelah merampas rempah-rempah di dalamnya.

Laurens Bicker berjanji kepada Sulthan Aceh, sekembalinya ke negeri Belanda akan menuntut perusahaan dagang (kompeni) Van caerden atas tindakannya itu. Ketika kembali ke Belanda, Bicker benar-benar memenuhi janjinya itu. Ia menyeret perusahaan itu ke pengadilan. Perusahaan itu kemudian dijatuhkan hukuman dan denda oleh Mahkamah Amsterdam harus membayar denda sebanyak 50.000 gulden kepada Kerajaan Aceh. Denda itu kemudian benar-benar dibayarkan.

Setelah Bicker berhasil meyakinkan Sulthan Aceh melalui Laksamana Keumalahayati, maka Sultan Aceh kemudian bersedia menerima mereka di istana. Mereka diberi izin berdagan di Aceh, dan Frederick de Houtman yang ditawaan di penjara Kerajaan Aceh dibebaskan kembali oleh Laksaman Keumalahayati.

Setelah itu, Sulthan Aceh mengirim tiga utusan (diplomat) Aceh untuk menghadap Pangeran Maurist dan Majelis Wakil Raykat Belanda. Ketiga utusan itu adalah Abdoel Hamid, Sri Muhammad, dan seorang perwira angkatan laut yang diutus oleh Laksamana Keumalahayati, serta seorang bangsawan yang bermana Mir Hasan.

Ketiganya merupakan duta-duta yang pertama kali dari sebuah Kerajaan di Asia yang mengunjungi Negeri Belanda. Utusan Kerajaan Aceh itu diterima oleh Kerajaan Belanda dengan suatu upacara kebesaran, meski waktu itu Kerajaan Belanda sedang berperang memperjuangkan kemerdekaan dengan Spanyol. Dalam upacara itu hadir tamu-tamu kehormatan dari beberapa negara Eropa yang menyaksikan pengakuan de jure dari Kerajaan Aceh terhadap Belanda.

Jacob dan Wab mengungkapkan, dengan hadirnya diplomat Kerajaan Aceh itu, telah mengangkat derajat Negeri Belanda yang baru lahir di bawah pimpinan Pangeran Maurist pendiri dinasti oranye di mata negara-negara Eropa waktu itu. Salah seorang diplomat Aceh yakni Abdoel Hamid yang telah berusia 71 tahun, meniggal di kota Middelburg dan dimakamkan di sana dengan suatu upacara kehormatan. Semua biaya pemakanan dan upacara kebesaran itu ditanggung oleh kompeni Hindia Timur (VOC). Dua utusan lainnya kembali ke Aceh dengan selamat. [iskandar norman]

Pertalian Pasai dan Majapahit


Ratu Nur Ilah merupakan salah satu penguasa perempuan yang terkenal dalam sejarah Kerajaan Pasai. Ia mangkat pada tahun 1380 Masehi. Ia diangkat menjadi ratu setelah Pasai diserang oleh Majapahit.

Mengenai sejarah perempuan perkasa ini sudah banyak ditulis oleh para ahli sejarah, diantara Dr Hoesein Djajaninggrat, yang langsung meneliti pahatan tulisan beraksara Arab di makanya. Kemudian Dr Othman M Yatim pakar arkeologi Islam Malaysi bersama Abdul Halim Nasir.

Menurut mereka, inskripsi yang terdapat pada nisan yang bertulisan Arab menyebutkan angka tahun mangkat sang Ratu yaitu Jumat 14 Zulhijah tahun 791 Hijrah, sedangkan yang tertera pada nisan yang berhuruf Jawa Kuno terpahat tahun 781 Hijrah. Jadi, antara kedua nisan itu terdapat selisih 10 tahun.

Menurut Dr W F Stutterheim, hal itu terjadi karena kesilapan pemahat sehingga, baginya, tahun yang tertera pada nisan yang bertulisan Jawa Kuno, yang bertepatan dengan tahun 1380 Masehi tersebut, merupakan tahun mangkatnya Ratu itu. Tulisan Jawa Kuno yang terpahat pada nisan yang sebuah lagi telah diteliti oleh Stutterheim dan dimuat dalam Acta Orientalia, Leiden, tahun 1936.

Hooykaas menerjemahkan syair di nisan itu sebagai berikut : “Ssetelah hijrah Nabi, kekasih, yang telah wafat, tujuh ratus delapan puluh satu tahun, bulan Zulhijah , 14, hari Jumat, Ratu iman Werda rahmat Allah bagi Baginda, dari suku Barubasa [di Gujarat], mempunyai hak atas Kedah dan Pasai, menaruk di laut dan darat semesta, ya Allah, ya Tuhan semesta, taruhlah Baginda dalam swarga Tuhan.’’

Prof Dr T Ibrahim Alfian adalam tulisannya dimuat dalam buku Wanita-wanita Perkasa di Nusantara, data lain yang berkaitan dengan sang Ratu, maupun yang berhubungan dengan takluknya Kedah kepada Pasai, sampai sejauh ini belumlah ditemukan, kecuali informasi dari nisan Ratu Nurilah yang tersebut di atas.

Meskipun demikian, pertalian kebudayaan antara Pasai dan Kedah telah terjalin lama seperti yang terlihat, antara lain, dari persamaan istilah untuk menyukat hasil-hasil pertanian, misalnya padi dan beras. “Stutterheim juga menganggap penyebutan dua kerajaan itu sangat menarik karena antara Pasai dan Kedah di waktu kemudian terdapat hubungan dagang, mengingat, di Selat Malaka, letaknya berseberangan. Mungkin hubungan inilah yang masih tersisa dari kesatuan Kerajaan Sriwijaya dan Kadara masa lalu, yaitu Sumatra dan Malaya,” jelasnya.

Namun yang menjadi pertanyaan baginya adalah mengapa di antara nisan Ratu Nur Ilah ini terdapat tulisan Jawa Kuno? Ratu Nurilah, sebagaimana disebutkan di atas, mangkat pada tahun 1380, masa Kerajaan Majapahit diperintah oleh Prabu Hayam Wuruk. “Patut dicatat bahwa Majapahit berada dalam puncak kejayaan pada pertengahan abad XIV berkat pimpinan Mahapatih Gadjah Mada. Dalam kitab Negarakrtagama yang digubah oleh Prapanca pada tahun 1365 disebutkan bahwa Samudra, tepatnya Samudra Pasai, adalah salah satu daerah yang ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit,” ungkapnya dalam tulisan tersebut.

Kemudian ia melanjutkan, sumber lain mengenai adanya serangan Majapahit terhadap Pasai terdapat dalam Kronika Pasai atau Hikayat Raja-raja Pasai. Meskipun tidak menyebutkan angka tahun penyerangan itu, hikayat ini masih memberikan indikasi waktu, yaitu dengan menceritakan nama raja yang berkuasa pada waktu serangan itu terjadi, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Ahmad.

Hikayat Raja-raja Pasai mengisahkan bahwa setelah tiga hari tiga malam berperang, kalahlah Pasai sehingga rakyat lari cerai berai. Laskar Majapahit masuk ke dalam kota Pasai dan menduduki istana Sultan Ahmad. Banyak rampasan dan tawanan yang mereka peroleh. Sultan Ahmad meninggalkan istana, melarikan diri ke suatu tempat kira-kira lima belas hari perjalanan dari negeri Pasai.

Setelah beberapa lama di Pasai, segala menteri punggawa dan rakyat Jawa dikerahkan oleh Senapati mereka naik ke bahteranya masing-masing, kembali ke Jawa, dengan memuat segala harta rampasan yang begitu banyak. Setelah sampai ke Majapahit, menurut Hikayat Raja-raja Pasai, Sang Nata bertitah, ‘’Akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk di tanah Jawa ini, maka kesukaan hatinya’’. Titah itulah, kata Hikayat Raja-raja Pasai selanjutnya, yang menyebabkan ‘’maka banyak keramat di Tanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu’’.

Dalam kaitan ini P De Roo de la Faille, dalam tulisannya ‘’Bij de Terreinschets van de Heilige Begraafplaats Goenoeng Djati’’, 1920, mengemukakan bahwa ditemukannya cungkub Puteri Cermen di desa Leran dengan candrasengkala 1313 atau 1308 Saka bertepatan dengan tahun 1391 atau 1386 Masehi menunjukkan telah adanya makam Islam di Gresik pada waktu itu. Hal itu, sesuai dengan dugaan de Roo de la Faile, bahwa koloni orang-orang Islam Gresik pada masa itu sesungguhnya berasal dari tawanan orang-orang Islam Pasai yang dibawa ke Majapahit.

Masih menurut Ibrahim Alfian, Dalam sebuah naskah Jawa, Tapel Adam, nama Pasai tercantum dalam sejarah pendakwah-pendakwah Islam pertama. Didalamnya diceritakan bahwa Syaikh Jumadilkubra adalah keturunan Zainul Abidin, sedangkan putera Jumadilkubra yang tertua adalah Maulana Ishak. ‘’wontening pase negeri, anyelammaken taiya, manjing Islam Nate Pase’’, dan puteranya yang kedua, Ibrahim Asmara, ‘’lumampah dateng Cempa’’.

Di dalam naskah Tapel Adam juga dikisahkan tentang Batara Majapahit yang memperisterikan puteri Raja Pasai dan saudara puteri itu datang ke Majapahit serta kemudian oleh Batara Majapahit dihadiahkan tanah Ampel-denta sebagai tempat kediamannya. Cerita seumpama ini terdapat pula dalam Hikayat Banjar yang juga akan dikemukakan di bawah ini.

Kemudian lanjut Ibrahim Alfian, pada akhir naskah Hikayat Raja-raja Pasai diceritakan sebagai berikut. ‘’Bahwa ini negeri yang takluk kepada Ratu [Raja] Negeri Majapahit kepada zaman pecahnya [kalahnya] Negeri Pasai, ratunya [rajanya] bernama Ahmad.’’

Cerita itu disertai dengan daftar nama-nama 35 buah negeri yang takluk kepada Majapahit, antara lain, untuk menyebutkan beberapa, Tiuman, Riau, Bangka, Sambas, Jambi, Kutai, Bima, Sumbawa, dan Seram. Hikayat Banjar juga menyebutkan bahwa yang takluk kepada Majapahit adalah Banten, Jambi, Palembang, Makasar, Pahang, Patani, Bali, Pasai, Campa, dan Minangkabau.

Nur Ilah Diangkat Jadi Ratu
Masih menurut Ibrahim Alfian, sebelum bala tentara Majapahit meninggalkan Pasai, kembali ke Jawa, rupanya pembesar-pembesar Majapahit telah mengangkat seorang raja, bangsawan Pasai, yang dapat dipercaya untuk memerintah Kerajaan Pasai. Raja ini tiada lain adalah Ratu Nur Ilah, keturunan Sultan Malikuzzahir, yang nisannya ditatah dengan huruf Jawa Kuno atas arahan yang diberikan oleh pembesar-pembesar Majapahit, tentunya.

Antara Kerajaan Majapahit dan Pasai terdapat hubungan persahabatan dan perdagangan yang sangat erat. Malaka yang mulai berkembang sebagai bandar dagang yang besar sekitar tahun 1400 Masehi mengakui peranan Pasai dan Majapahit dalam bidang perdagangan di Selat Malaka.

Tome Pires, yang menulis catatannya di Malaka dan India antara tahun-tahun 1512-1515 dalam Bahasa Portugis, dengan judul Suma Oriental, mengemukakan sebagai berikut. Malaka mengirim dutanya ke Majapahit untuk merayu Raja Jawa agar pedagang-pedagang Jawa mau melakukan kegiatan perdagangannya di Bandar Malaka. Raja Jawa mengemukakan kepada utusan Malaka itu, bahwa jung-jungnya telah lama sekali berlayar ke Pasai untuk berniaga dan ia mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Pasai.

Di pelabuhan Pasai pedagang-pedagang Jawa memperoleh kedudukan istimewa dalam bentuk pembebasan dari keharusan membayar cukai impor serta ekspor dan perolehan barang dagangan yang baik dang menguntungkan. Raja Majapahit menambahkan, meskipun Raja Pasai menjadi vasal Majapahit, penentuan kebijaksanaannya dalam bidang perdagangan terserah kepada Raja Pasai sendiri. Ia sendiri tidak hendak menghapuskan kebiasaan yang telah lama ada dan telah disepakati sejak lama antara kedua kerajaan itu.

Setelah dutanya kembali ke Malaka, Raja Malaka mengirimkan pesan kepada Raja Pasai, mengharapkan kebaikannya agar menyetujui dan tidak berkecil hati jika Jawa berhubungan dagang dengan Malaka, serta memohon kebaikan Raja Pasai untuk megirimkan pedagang-pedagangnya beserta barang-barang dagangannya ke Malaka.

Raja Malaka juga menyampaikan bahwa ia telah mendapat jawaban dari Raja Majapahit, bahwa jika Raja Pasai bersetuju, Raja Majapahit akan berbesar hati. Raja Pasai kemudian mengirimkan utusannya ke Malaka untuk menyampaikan pesan bahwa Pasai tidak keberatan memenuhi permintaan Raja Malaka apabila Raja tersebut bersedia memeluk agama Islam. Akhirnya, Raja Malaka beserta segenap rakyatnya beriman akan Allah dan rasul-Nya dan sesudah itu banyak sekali pedagang Islam dari Pasai pindah berdagang ke Malaka, terutama bangsa Arab, Parsi dan Bengal.

Tautan antara Pasai dan Majapahit juga diungkapkan oleh Dr J J Ras dalam desertasinya yang dipertahankan pada tahun 1968 di Rijksuniversiteit Leiden, yaitu Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography. Di dalamnya dikisahkan tentang Raja Majapahit yang belum Islam, yang mengirim utusannya untuk meminang putri Pasai. Meskipun raja Pasai itu beragama Islam, ia tidak kuasa menolaknya, takut diserang oleh Majapahit. Ia hendak memelihara rakyat dan negerinya dari kebinasaan. Di Majapahit puteri Pasai itu diberi tempat tinggal yang terpisah, tiada bercampur dengan gundik-gundiknya yang lain, agar tiada memakan makanan yang haram.

Selang beberapa waktu datanglah saudara Puteri Pasai, Raja Bungsu namanya. Setelah beberapa lamanya ia di Majapahit, ia ingin kembali ke Pasai. Puteri Pasai itu tiada sekali-kali ingin saudaranya pulang ke Pasai, karena ia tidak mempunyai sanak saudara di Majapahit. Oleh karena Raja Bungsu berkeras hendak pulang juga ke Pasai maka puteri itu merasa sangat sedih. Karena Raja Majapahit sangat sayang kepada Puteri Pasai itu, dimintanya kepada Raja Bungsu agar tinggal saja di Majapahit, agar Puteri itu tidak sampai jatuh sakit. Raja Majapahit bertitah jika Raja Bungsu bersedia tinggal di Majapahit, ia dapat mendirikan rumah ditempat mana saja yang disukainya.

Akhirnya Raja Bungsu memilih Ampel sebagai tempat kediamannya dan Raja Majapahit berkenan meluluskan permohonan Raja Bungsu itu. Ketika menebas hutan di dukuh Ampel itu, Raja Bungsu menemukan kayu gading yang kemudian dijadikan tongkat. Sejak itu, dukuh itu terkenal dengan nama Ampelgading hingga sekarang ini. Karena desa Ampel hendak memeluk agama Islam, Raja Bungsu mengirim utusannya untuk menyampaikan hasrat tersebut kepada saudaranya, Puteri Pasai, yang kemudian meneruskannya kepada suaminya, Raja Majapahit.

Sabda Raja Majapahit menurut Hikayat Banjar, berbunyi demikian: ‘’Katakan arah Bungsu, barang siapa handak masuk Islam itu terima masukkan Islam itu. Jangankan desa itu, maski orang dalam nageri Majapahit ini, namun ia hendak masuk Islam itu, masukkan’’. Setelah suruhan Bungsu kembali ke Ampel, seluruh penduduk Ampel memeluk agama Islam.[iskandar norman]
 
.

Comment

.

Label 1

Support : Your Link 1 | Kupi Atjeh | Your Link 2
Copyright © 2011. Kupi Aceh - All Rights Reserved
Theme Maskolis Oprexed Your Link 1
Powered by You Know It