.
Headlines News :

Label atas

.
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Abu Dawöed Beureuéh & Pengakuan Prabowo

Abu Dawöed Beureuéh dan Pengakuan Prabowo 
Saat berkunjung ke Aceh tadi, Prabowo dihadapan banyak orang di Lampulo ia mengatakan kalau Ayahnya Soemitro Djojohadikoesoemo sudah dianggap sebagai anak oleh Tengku Abu Dawoëd Beureuéh. Secara tidak langsung, ia ingin mengatakan kalau dirinya adalah "cucu" Abu Dawöed Beureuéh.
Banyak yang tidak tahu, 1 Mei 1978 atau satu tahun sesudah dideklarasikan Aceh Merdeka oleh Tengku Hasan di Tiro. Kala itu, Indonesia dibawah kepemimpinan Suharto, mantan mertua Prabowo Subianto, membentuk tim khusus untuk menangkap Abu Dawöed Beureuéh agar diasingkan ke Jakarta.Tim khusus itu dipimpin oleh Letnan Satu Sjafrie Sjamsoeddin.
Abu menolak untuk dibawa, bahkan disaat penolakan Abu yang saat itu sudah tua justru anak buah Sjafri menyuntik obat bius ke badan Abu. Abu Dawöed melawan, hingga jarum suntik patah, dan darah berceceran membasahi badan dan baju Abu yang lusuh. [Photo Baju Abu berceceran darah dimuat dalam Buku H.M. Nur El Ibrahimy]
Bahkan, saat anak buah Sjafri membawa Abu Dawöed dengan Helikopter, Abu dalam kondisi tidak sadarkan diri dan disumpal dengan kayu yang sudah dibalut kain, agar mulut Abu selalu terbuka. [Lihat Photonya dalam Buku Hasan Tiro Karya Murizal Hamzah]
Sjafrie adalah teman se-angkatan Prabowo di Akademi Militer pada tahun 1974 saat menempuh pendidikan TNI Angkatan Darat, demikian juga Susilo Bambang Yudhoyono. Tahun 1997, Sjafri menjadi Pangdam Jaya, dan Prabowo menjadi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) hingga kemudian menjadi Panglima Konstrad.
Ironis, jika Prabowo mengatakan kalau Ayahnya diangkat menjadi anak oleh Abu Dawöed Beureuéh yang dianggap lawan oleh Republik. Tidak ada bukti sejarah terkait pengakuanya itu. Karena faktanya, Sjafri yang menangkap Abu Dawöed adalah temannya Prabowo, dan Suharto adalah Presiden dari rezim Orde Baru yang telah menzalimi Abu Dawöed Beureuéuh itu adalah mertuanya, dan Soemitro adalah besan Suharto.
Jika ditilik, kondisi lingkaran kekuasaan saat itu seperti Devil One Swarp alias Jén saböeh Abéuk. Karena, tidak mungkin, kala seorang "Ayah" akan ditangkap oleh teman dari anaknya Soemitro tidak mampu mencegahnya, apalagi dia adalah bagian dari kekuatan Orde Baru yang kejam.
Abuwa Keunôeng Peungéut, Miwa Keunôeng peungéut, oh Akhé masa aneuk muda pih keunông peungéut. Begitulah salah satu lagu Aceh dulu menarasikan sejarah kepada kita generasi masa depan. Mubut! (Haekal Afifa).

Nenek Tengku Hasan di Tiro

Potjut Mirah Gambang, Nenek Tengku Hasan di Tiro ||
Badannya penuh darah, sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Ia tergeletak lemah diatas tanah yang dipenuhi genangan darah. Abdullah, putranya yang masih berumur 5 Bulan berada didekat ibunya yang tergeletak lesu, memandang penuh harap pada sang bunda tanpa mengerti apa sebenarnya yang terjadi.
Wanita Aceh yang hebat itu adalah Potjut Gambang, anak dari Tjut Njak Dhien dan Teuku Umar. Wanita merdeka yang ditembak oleh Belanda dalam Perang Gunung Halimon. Ia menemukan syahidnya pada 3 September 1910, dua hari sebelum suaminya; Tengku Chik Mahyeddin di Tiro syahid di Perang Kuta Aneuk Galông pada 5 September 1910.
Banyak yang tidak tahu, jika Potjut Gambang adalah Nek Tjhik-nya Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Perkawinan Tengku Chik Mahyeddin dengan Potjut Gambang telah melahirkan Tengku Potjut Fatimah, Ibu dari Tengku Hasan di Tiro. Pertautannya sangat dekat, Tengku Hasan di Tiro adalah Cucu dari Potjut Gambang dan Cicit dari Cut Njak Dhien. Sama halnya ia juga cicit dari Tengku Chik di Tiro Muhammad Saman.
Melihat Potjut Gambang terluka parah, H.J. Schmidt Letnah Belanda yang memimpin perang Halimon itu merasa iba. Sambil mendekatinya, ia menawarkan segelas air kepada Potjut Gambang dalam bahasa Aceh;
"Neupeuméuah ulôn, Potjut. Peudjeut neudjép ië bacut?" ujar Schmidt. Suasana hening. Tanpa jawaban apapun. "Peu Potjut peu-idin kamöe peuubat luka neuh?" tawarnya lagi.
Sambil berdiri pelan dan memaling mukanya kearah lain, dengan penuh emosi Potjut Gambang menjawab; "Ka wëh keudéh Kaphe tjiaka! Bét kamat kuh! Hana keupu keu ubat kah! Ka kapöh Ayahkuh, Njak kuh, Laköe kuh, kabéh kapöh kamöe mandum. Kah handjéut kagantöe peuë njang ka kah peureulöe. Hana kutuëng sayang nibak kah! Kadjak wéh keudéh!"
H.J. Shmidt tertegun mendengar jawaban wanita agung ini. Ia menyaksikan bagaimana tegarnya Mujahidah Aceh menjelang syahidnya, tak ada ketakutan di wajahnya. Bahkan, ronanya menyiratkan kebanggaan, kesabaran dan kekuataan. Beberapa jam kemudian, Potjut Gambang menemui syahidnya.
Dalam bukunya, "Marechausse in Atjeh" Schmidt menulis kisah ini. Baginya, hanya ada satu ungkapan (Prancis) untuk sikap Potjut Gambang ; "Bon sang ne Saurait Mentir" - Darah njang djröeh handjéut djiseumulét! [Haekal Afifa]
 
.

Comment

.

Label 1

Support : Your Link 1 | Kupi Atjeh | Your Link 2
Copyright © 2011. Kupi Aceh - All Rights Reserved
Theme Maskolis Oprexed Your Link 1
Powered by You Know It