.
Headlines News :

Label atas

.
Showing posts with label Aceh. Show all posts
Showing posts with label Aceh. Show all posts

Misteri Putri Cantik Bersuami Seratus di Aceh

Kamar pengantin itu tampak gemerlap. Kemilaunya bukan dari pancaran emas permata hadiah pernikahan Sang Sultan, tetapi karena sosok putri dengan kecantikan yang tak terlukiskan itu.

Perempuan itu Nian Nio Liang Khie. Pengantin Sultan Meurah Johan. Nian Nio Liang Khie yang telah berganti nama Putroe Neng tampak menunduk malu di sudut ruangan. Pancaran kecantikan Sang Permaisuri itu tak redup dalam keremangan. Betapa kebahagiaan Sultan Meurah Johan tak terperikan. Malam itu adalah malam pertama bagi keduanya.

Sultan Meurah Johan masih teringat. Sebelum putri laksamana Tiongkok itu dipersuntingnya, jangankan untuk saling mencintai, saling sapa saja tidak mungkin. Keduanya adalah musuh di medan tempur. Yang ada hanya hasrat untuk saling menghabisi.

Kala itu, ketika Islam belum menyentuh seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di Aceh, 2 ribu pasukan wanita berpakaian serba merah di bawah komando Nian Nio Liang Khie dan ibunya Liang Khie datang menyerbu. Mereka hendak menaklukkan Kerajaan Indra Jaya, Indra Patra, dan Indra Puri. Tujuannya, menyatukan sejumlah kerajaan di Pulau Ruja (Sumatera), masa itu.

Mendengar berita bahwa kerajaan tetangga diserang, Kerajaan Indra Purba yang dipimpin Indra Sakti bersiap menghadapi lawan. Saat itu, Raja Indra Sakti meminta bantuan laskar perang dari kerajaan Islam di Peureulak.

Liang Khie tewas dalam pertempuran, sementara Nian Nio Liang Khie menjadi tawanan perang. Dari dalam kurungan, pesona sang putri itu tak terbendung dan menarik hati siapa pun yang melihat. Sultan Meurah Johan, ulama dan pendiri Kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam pun demikian.

Kendati telah menikah dengan Putri Indra Kusuma, yakni putri bungsu dari Kerajaan Indra Sakti, tetapi, Sultan Meurah Johan urung membuang perasaan cintanya kepada Nian Nao Liang Khie. Dia sudah kadung terpana.

Setelah bergabung dengan Kerajaan Darud Donya, cinta Sultan Meurah Johan berbalas. Dia akhirnya menikahi gadis keturunan Tiongkok itu. Saat itu, Nian Nao Liang Khie masuk Islam dan mengubah namanya menjadi 'Putroe Neng'.

"Siapa sangka, malam pertama yang harusnya menjadi malam bahagia bagi mereka, berujung kematian Meurah Johan. Tubuh Meurah Johan terbujur kaku dengan kulit tubuh membiru," tutur Ali, penghayat sejarah dan budaya Aceh, asal Meulaboh, kepada Liputan6.com, Selasa, 11 Desember 2018, pagi.

Putroe Neng terperangah. Dia geming. Membisu di samping tubuh suaminya yang sudah tidak bernyawa. Sultan Meurah Johan meregang nyawa beberapa saat setelah menyentuh pujaan hatinya itu.

Di atas, hanya awal perjalanan kehidupan cinta maharani asal Kerajaaan Tiongkok itu. Selanjutnya, ada 98 orang bernasib sama dengan Sultan Meurah Johan. Setiap yang menjadi suami Putroe Neng nan cantik jelata itu, pasti meregang nyawa pada malam pertama.

Saat itu, kabar bahwa Putroe Neng membawa sial merebak. Banyak orangtua takut anaknya mendekati janda kembang itu. Cerita kalau menikahi Putroe Neng membawa kematian menyebar cepat. Seiring itu, meroket pula cerita kecantikan Putroe Neng yang memesona.

Banyak pria mencoba mendekati. Betapa kecantikan dan keanggunan yang dimiliki Putroe Neng tak dapat ditolak. Satu persatu pria meminang, satu persatu pun dipinang, tetapi oleh kematian. Sebanyak 99 suami tewas di tempat tidur, sementara Putroe Neng hanya mampu menangis. Apa gerangan yang salah pada dirinya.

"Kisah Putroe Neng ini sangat fenomenal lho. Sempat ditulis dalam novel 'Putroe Neng' sentuhan epik Ayi Jufridar, berhalaman 384 halaman," sebut Ali.

Kutukan berakhir saat perempuan yang kesepian dan selalu dirundung kesedihan itu dinikahi oleh Syeikh Syiah Hudam, yang tak lain adalah pria keseratus yang menikah dengan Putroe Neng.

Malam pertama mereka dilewati dengan kebahagiaan tak terperi. Kini Putroe Neng tak lagi merasa sepi dan sendiri. Sayangnya, hingga ajal menjemput, keduanya tidak mempunyai keturunan.

"Lalu, apa yang menyebabkan 99 suami lainnya tewas setelah menyentuh Putroe Neng di malam pertama? Nah, mereka meninggal gara-gara senjata, di kemaluan Putroe Neng. Ya, ada racun ditanam semacam susuk oleh nenek Putroe Neng di genitalnya, sebagai upaya menyelamatkan sang cucu dari tindak pemerkosaan zaman perang, saat itu," kata Ali.

AngKhi, panggilan sayang Putroe Neng sewaktu kecil, ditaruh sesuatu di alat kelaminnya oleh sang nenek pada saat dia berumur 7 tahun. Saat itu, Khie Nai-Naisaat, nenek Putroe Neng, takut cucunya menjadi korban keganasan perang.

Namun, pada saat menjalani malam pertama dengan Syekh Syiah Hudam, dia sudah menyadari ada sesuatu yang tersimpan pada alat kelamin sang istri. Tanpa disadari Putroe Neng, diam-diam dia berhasil mengeluarkan susuk tersebut. Syekh Syiah Hudam pun melalui malam pertama dan malam-malam selanjutnya dengan selamat.

Konon, susuk tersebut dimasukkan oleh Syekh Syiah Hudam ke dalam sepotong bambu dan dipotong menjadi dua bagian. Satu bagian dibuang ke laut, dan bagian lainnya dibuang ke gunung. Setelah racun itu dikeluarkan, kecantikan Putroe Neng meredup.

Dianggap Hoaks

Benar tidaknya cerita Putroe Neng memiliki seratus suami diragukan banyak pihak. Mereka menilai, itu hanyalah pengibaratan. Menggambarkan bagaimana komandan perang asal Tiongkok itu telah menaklukkan seratus pria di medan pertempuran.

Selain itu, kendati sudah banyak literasi mengenai Putroe Neng, tetapi, belum ada yang mampu mengungkap siapa 98 suami selain Sultan Meurah Johan dan Syekh Syah Hudam.

"Ya, kisahnya memang fenomenal. Namun itu cenderung dianggap mitos. Kita juga tidak tahu. Namun, yang pasti, yang namanya 'Putroe Neng' itu benar adanya. Ada kuburannya," ucap Ali pada akhir ceritanya.

Kuburan Putroe Neng alias Nian Nio Liang Khie berada di pinggir jalan di Banda Aceh-Medan, tepatnya di kawasan 'Makam Putroe Neng' di Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Kompleks pemakaman ini sudah dipugar beberapa kali sejak 1978.

Sumber

Melawan Lupa Tragedi Simpang KKA

Kala itu, tidak ada pembelaan apapun dari orang lain. Apalagi mengadakan Aksi Akbar Bela Aceh sambil mengelilingi Istana Indonesia. Kecuali, diri kita sesama bangsa Aceh.
Kala itu, tidak ada pembelaan dari para agamawan lain bahwa ini adalah tindakan terkutuk yang dilakukan negara. Apalagi, sampai mengadakan Shalat Ghaib berjamaah di mesjid-mesjid, stadion-stadion di ibukota negara. Kecuali, hanya ulama kita dan sesama bangsa Aceh.
Kala itu, tidak ada hasil ijtima' apapun dan dari siapapun yang mampu menggerakkan jiwa-jiwa manusia sebagai tanda persoalan darah lebih penting dari persoalan pemilihan kepala negara. Kecuali, hanya kita bangsa Aceh yang saling duduk memanusiakan manusia.
Saya tidak pernah lupa. Tidak ada cerita tersadis yang pernah kubaca selain kisah para santri yang diberondong bersama gurunya. Tidak ada film terpilu yang pernah kutonton selain para perempuan, anak-anak dan orangtua tanpa senjata yang ditembak secara babi-buta. Tidak ada berita tersedih yang pernah kudengar selain mereka yang diikat batu, dililit kawat lantas ditenggelamkan dalam keabadian semesta.
Doa Untuk kalian yang telah menulis sejarah negeri ini dengan darah dan airmata. Aku tak pernah lupa jika mereka melebihi Belanda!
Simpang KKA, 3 Mei 2019
Haikal Afifa

Sebelum Hasan tiro memberontak

15 September 1945 :
Sebelum Hasan tiro memberontak. Daud cumbok sudah melakukan kan. Namun sayang gerakan Daud cumbok di tumpas oleh republiken sejati tanpa bantuan dari batavia.arti nya pemberontak terhadap RI ditumpas oleh putra Aceh sendiri. Hasan tiro dan guru nya Tgk Daud beureueh adalah orang yg sangat gigih mempertahakan kan jabang bayi indonesia mardeka yg baru berumur hitungan Bulan itu.
Fitnah terhadap Daud cumbok yang tdk pernah terbukti itu menjadikan Aceh sebagai bagian dari NKRI. Hasan Tiro akhir nya menjadi pemberontak seperatis yg ingin mengembalikan Aceh kembali sebagai Negara berdaulat.sedangkan Daud beureuh memberontak hanya ingin menganti kan pancasila dengan syariat islam serta mengantikan imam dari imam sukarno ke Imam kartosuwiryo.
Teuku Muhammad Daud Cumbok, putra hulubalang Desa Cumbok, lahir tahun 1910, menentang kemerdekaan RI di Aceh. Pejuang kemerdekaan RI di Aceh, dipimpin Sjamaun Gaharu menyerbu Markas Daud Cumbok. Daud Cumbok meninggal. Dikenal sebagai ”Peristiwa Cumbok”, ini merupakan konflik pertama kali antara kelompok pro-RI dengan penentangnya.
Kelompok pro-RI dimotori pusa, sedangkan penentang bergabung dengan RI dimotori hulubalang daerah pidie. Di daerah ini belakangan dikenal sebagai basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) setelah Hasan Tiro ke luar negeri. Sebelumnya, pusat GAM di Pidie. Peristiwa ini sebenarnya antiklimaks dari pertentangan mereka sejak penjajahan Belanda (1910-1920).
Akhir 1949 Daud Beureueh bersikukuh untuk mendukung kemerdekaan RI. Bahkan, mengalang pengumpulan dana dari rakyat Aceh untuk membiayai pemerintah RI. Tempo dua bulan, terkumpul 500.000 dolar AS. Sebanyak 250.000 dolar AS disalurkan kepada angkatan perang RI, 50.000 dolar AS untuk perkantoran RI, 100.000 dolar AS untuk pengembalian pemerintah RI dari Yogyakarta ke Jakarta, dan 1000 dolar AS diserahkan kepada pemerintah pusat melalui AA Maramis.
Kemudian rakyat Aceh mengumpulkan 5 kg emas untuk membeli obligasi pemerintah untuk membiayai perwakilan Indonesia di Singapura, pendirian Kedutaan Besar RI di India dan pembelian dua pesawat terbang untuk transportasi pejabat RI.

Pembagian Suke suke di Aceh

Seri Sultan Alaiddin Riayat Sjah Alqahar yang memegang kerajaan dari tahun 1537 '_1568 membahagi golongan rakjatnja atas keasalannya yang dinamai kaum atau sukeë. Orang2 suku Hindu yang datang, tampaknya mebentuk 4 kesatuan dan berdiam di Tanoh Abeë, Lam Leuot.Pentja, Montasik dan Lam Nga .
Sebagai Kepala kaum dari mereka adalah
Radja Raden tinggal di Tanoh Abeë.
Orang2 yang berasal dari suku Batak/Karo membentuk kaum Ieë reuloih (kaum tiga ratus), dari suku Hindu Kling (Dagang) kaum Imeum
Peuët (Imam empat) dan orang2 asing lain : 'Arab, Parsi, Turki dll. dari sana-sini datangnya, membentuk kaum Tok Bateë (cukup batu).
Keluarga Sulthan sendiri termasuk dalam suku Tok Bateë. Kemudian barulah terjadi kaum ja Sandang yang berasal dari campuran (peranakan) suku Hindu dan Batak Kareë.
Penginkut2nja memeluk Agama Islam, dikepalai oleh 4 orang (panglima kaum), yang bergelar Imam. Imam2 inilah jang mendjadi penanggun'g jawab dari 4 kaum itu, yang pada akhir abad XIX masih djuga terdapat di Atjeh Besar.
Dalam pantun Atjeh ada disebut :
Kaum Iheë reutoih ban aneuk drang,
kaum Dja Sandang djeura haleba,
kaum tok bateë batjut-batjut,
kaum imeum peuët jang gok-gok donja.
Artinya:
A. Kaum tiga ratus, sebagai bidji drang, yang semacam pohon kacang tanah, tumbuhnya setelah musim memotong padi. matilah segala djerami, maka tumbuhlah sendiri pohon2 drang itu dengan suburnya, buahnya diatas seperti kacang hijau, tetapi bijinya lebih halus.
B.Kaum Dja Sandang, sebagai djeura haleba. haleba (bidji kelabat) warna kuning, bidji ini bahan pemasak kari guna menghilangkan bau
banjir pada daging atau ikan. bidji ini lebih besar sedikit dari bidji drang,
C. Kaum tok Bateë, bacut-bacut. jakni cuma sedikit saja.
D.Kaum Imeum peuët, yang gok2 donya, Gogok = guntjang. maknanja : Kaum ini berpengaruh besar dan memegang peranan penting
dalam pemerintahan.
jadi kaum Imeuem Peuët adalah kaum yang berpengaruh terbesar. Sesudah kaum ini. maka kaum tiga ratuslah yang dapat dipandang besar dan alasanya maka terbentuk kaum itu adalah sebagai beriku!
Orang2 suku Hindu dan Batak/Karo bersengketa karena suatu perkara zina. 300 Orang suku Batak/Karo berhadapan dengan 400 orang suku Hindu hendakmenyelenggarakannya persengketaan itu dengan mengangkat senjata.
Guna menghindari perang saudara ini.maka mereka memperoleh kata sefakat, bahwa orang yang bersalah itu dibawa kesatu arena (tanah lapang) disana akan dilakukan hukum adat, tetapi kemudian dapat dibebaskan.
Bila ia. diWaktu dilakukan tuntutan untuk membunuhnya, dapat melarikan dirinya kesalah satu kaum yang berada disekitar arena itu, yang kelak dapat menempatkannja dalam perkauman mereka, hal ini terjadilah sehingga kedua kaum yang dimaksud bersetia tolong menolong melindungi yang bersalah itu.
Sejak waktu inilah orang2 suku Batak/Karo disebut kaum tiga ratus dan orang2 suku Hindu yang menjadi kaum empat ratus.
Sukeë tok Bateë terbentuk dari orang2 asing lain : Arab, Parsi, Turki, Habsji.Kling dll.yang berturut2 diam di Atjeh.
Tentang terjadinja pun ada suatu ceritera pula yaitu : Sewaktu Sultan Alaiddin Riajat Sjah Alqahar membangunkan sebuah istana, maka dikerahkan Baginda rakjatnya berseraja membawa batu2 untuk keperluan itu. Orang orang bangsa asing turut juga melakukan pekerdjaan itu dan mereka ini yang lebih giat bekerja dan lekas mencukupi batu untuk keperluan pembangunan istana itu.
Sesudah batu2 penghabisan dibawa oleh orang2 asing ini. maka Suthan bertitah supaja menghentikan pekerdjaan itu, disebabkan batu sudah cukup (Tok Bateë). Sejak waktu itulah orang2 jang berasal dari bangsa asing digelarkan kaum Tok Bateë.
Suithan familie asalnyapun dari orang2 diluar Atjeh. umumnja dari orang2 Parsi,'Arab,Malaju dan Bugis, yang mempunyai pengetahuan memerintah secara Islam dan terpandang karena pergaulan dan bijaksananya, menurut sedjarah Melaju ada djuga turunan Radja Atjeh yang datang dari cempa.Kembodja,jadi Raja dan keluargaya termasuk dalam kaum Tok Bateë.
Djikalau ceritera orang dapat dipercaya. maka kaum Dja Sandang ada kemungkinan berasal dari seorang Radja Batak datangnya dari XXII
mukims. kampung Lam Panaih.Laweuëng, Kalé dan Pandei. dipesisir Selat Malaka.
Nama gelarnya diperolehnya dari seorang Sultan Atjeh. kerena ia mempersembahkan kepada Sultannja setiap tahun satu bambu
(pacok) yang berisikan tuak yang disandang dibahunya dengan seutas tali.
Kaum2 Dja Sandang. Iheë reutoih dan Tok Bateë untuk dapat mengimbangi kaum 400. selalu bersatu. Djuga kaum2 ini disebutkan kaum Iheë reutoih (kaum tiga ratus). Setiap kampung atau mukim biasanja didjumpai
orang2 jang berasal dari berbagai2 kaum. tetapi selamanja dikuasai oleh kaum jang orang2nja banjak mendjadi penduduknja.
Mereka jang terikat dalam satu kaum, berada dibawah kuasa dari atau satu kepala-famili jang bergelar Panglima kaum.
Kaum adalah sekeIuarganja jang dinamai djuga aneuk sukeë (anak suku). Dalam pemerintahan jang dahulu2 ada djuga terdjadi pertumpahan-darah jang dipersengketakan antara kaum 300 dengan kaum 400.
Manakala terjadi persengketaan ini.maka masing-masing anak kaum mencari kaumnya yang merupakan tali Famili. Dimasa yang begini rupa. maka perkawinan antara kaum dimaksud tidaklah dilakukan orang.
Dalam masa peperangan dengan Portugis dan sampai kepada Belanda mareka melupakan perselisihan sesamanja untuk kepentingan negara (tarich aceh dan nusantara HM zainuddin.ft suke di gayo)

Agresi ke - II Belanda di Aceh

Agresi ke - II Belanda di Aceh (Atjeh de Orloog)
Oleh: Paul Van't Veer.
Ekspedisi yang pertama telah gagal karena tindakan yang tergesa-gesa, dengan perlengkapan yang sangat buruk dan ketiadaan rencana peperangan. Anggaran Belanda Hinda-Belanda telah dinaikkan dengan 5,5 juta golden, lebih dari setengahnya adalah untuk marinir yang memperlihatkan gambaran yang buruk sekali.
Untuk keperluan Hindia di negeri Belanda sedang diusahakan mengerahkan dua ribu orang lebih banyak dari kekuatan yang telah ada. Karena desas desus mengenai tugas-tugas berat ke Aceh menembus ke Eropa, maka dengan segera terpaksalah uang-uanh dilipat gandakan menjadi 400. Pada pihak perwira-perwira Belanda terdapat banyak pekerjaan Untuk di tempatkan diseberang lautan mereka itu memperolah hadiah sebanyak 1500. Namun perwira-perwira kesehatan belumlah dapat dikerahkan secukupnya meskipun hadiah mereka dinaikkan sampai 4500.
Sungguh upah yang sangat tinggi pada masa itu.

Perhatian sepenuhnya ditujukan terhadap masalah persenjataan. Pasukan artileri memiliki 72 pucuk meriam. Ditambah lagi dengan dua buah pucuk senapan yang paling mutakhir pada masa itu. Dari betawi dibawa pabrik roti uap yang lengkap, akan tetapi karena beberapa kerusakannya pabrik itu tidak dapat di pergunakan, sehingga lebih kurang 3000 anggota militer Eropa dengan menggerutu harus memilih makan biskuit kapal yang sangat keras atau makan nasi. Begitu juga halnya dengan kereta api kecil dengan relnya sepanjang 6 Km serta 6 buah gerbongnya. Adanya pompa-pompa modern, dua buah jembatan besi dan sebuah pangkalan sementara, sebuah bengkel pambuat senapan, sebuah tempat pemeriksaan air sebuah bengkel besi dsb.,dsb., semuanya menunjukkan adanya organisasi sempurna seperti belum pernah dialami di Hindia-Belanda.

Akhirnya kekuatan tentara untuk Aceh berjumlah lebih kurang 13.000 orang. Diantaranya 389 orang perwira, 8.156 orang bawahan, 1.037 orang pembantu perwira, 3.280 orang hukuman kerja paksa dan 243 orang wanita. Mereka itu diberangkatkan dari berbagai kota garnisun di jawa ke Aceh. 19 buah kapal pengangkut telah disewa, semua apa yang diperdapat di Betawi dan Singapure, dan dalam jumlah itu termasuk juga kapal-kapal asing seperti 'Maddaloni' milik Jenderal Italia Nino Bixio.
Satu perjalanan dengan orang-orang mati di kapal, bukan sebagai panjar atas kesulitan-kesulitan yang akan di temui di Aceh akan tetapi sebagai warisan wabah kolera yang periodik, yang pada penghujung bulan oktober 1873 baru saja melanda Betawi, yang juga di gunakan oleh Belanda nantinya di untuk membunuh pejuang2 Aceh, ribuan orang yang sedang naik ke kapal menjadi mangsa yang paling empuk sekali bagi penyakit itu. Keberangkatan yang tadinya 1 Nopember di tunda sampai 10 hari, sedang pada hari keberangkatan itu tidak ada upacara-upacara yang tadinya di rencanakan, di kapal sudah tercatat 60 orang mati, dan sekali mereka mendarat jumlah korban semakin bertambah setiap hari. hujan turun tak henti-hentinya tempat-tempat berteduh menjadi becek dan kekurangan dokterpun segera terasa.
Pada taggal 9 desember salah satu dari brigade itu (yang keempat telah dikirim ke padang sebagai cadangan), setelah melakukan latihan perang-perangan semua di Padang. Kemudian mereka didaratkan kembali di pantai aceh yang berawa-rawa. Setelah melakukan peperangan dengan cukup hati-hati, barulah setelah 14 hari pasukan induk dapat bermarkas didekat kampung Peunayong.
Pada akhir desember 1873 meninggal 150 orang penyakit kolera dan 500 orang pasien dirawat di tenda-tenda yang berpindah-pindah harus ketempat kering sebanyak 18 orang perwira dan 200 orang bawahan harus diangkut ke padang dalam keadaan sakit karena rumah sakit darurat tidak dapat menampung lagi. Dengan demikian, maka sebelum ekspedisi itu memulai tugasnya, ia telah kehilangan sepersepulah lebih kekuatannya.

Jan van Swieten

Sebelunya mereka mendarat, Van Swieten mengirim utusannya dengan membawa surat-surat kepada Sultan yang masih muda itu serta penasihat-penasihatnya. Surat-surat itu di ajukan supaya sultan menyerah, tetapi tidak di jawab sedang utusan-utusannya di bunuh. Setelah pasukan mendarat, memang ada beberapa pemuka rakyat yang rendah kedudukannya didaerah pantai datang manyerah. Di antara mereka itu adalah kepala daerah Meuraxa bernama Teuku Ne'. di luar daerah Aceh ia disebut 'Raja'. Akan tetapi disini dinamakan Ulee Balang.
Setelah mengalami beberapa buah peperangan di pantai ketika menuju peunayong, tempat didirikannya markas besar yang tetap, maka pada tanggal 6 januari mulailah Van Swieten melakukan serangan besar-besaran yang pertama. Serangan tersebut di tujukan ke Masjid Raya yang kini untuk ketiga kalinya harus di rebut oleh tentara Hindia Belanda, dalam tempo sepuluh bulan. Lagi-lagi diderita kekalahan yang besar, Serangan itu di lakukan oleh sebuah brigade lengkap yang terdiri 1.400 orang, pada akhir serangan tercatat dua ratus orang serdadu menderita luka parah dan 14 orang perwira luka. Sungguh kerugian bagi Belanda yang cukup besar, Van Swieten malah telah menghitungnya dgn angka-angka kerugian lain. Disini dalam sehari saja sepertujuh brigadenya sudah tak terpakai lagi. Oleh karenanya dalam menghadapi serangan-seranga ke Dalam (istana) ia mempersiapkan kembali penyelidikan-penyelidikan yang lebih sempurna serta melakukan tembakan yang terus menerus. Atas Nasehat Teuku Ne' dilakukan pengepungan terhadap Dalam. Lobang-lobang perlindunganpun digali dan kedalamnya ditempatkan meriam-meriam besar. Juga sekoci-sekoci yang di perlengkapi dengan meriam-meriam kecil turut mengambil bahagian dalam serangan-serangan itu. Akhirnya setelah di beri syarat untuk menyerang Dalam pada tgl 24 januari 1874 di ketahuilah pada malam harinya lawan telah menyingkir dari tempat itu. Daerah Dalam yang bertembok itu dgn bangunan-bangunan besar dan kecil yang telah menjadi reruntuhan dan tak ada sebuah pun yang menyerupai istana lagi yang telah jatuh ke tangan tentara Hindia-Belanda tanpa perlawanan apa-apa.
Di Betawi dan Negeri Belanda Perebutan Dalam Dianggap sebagai sukses terpenting yang telah di capai oleh ekspedisi. Dendam pada bulan April 1873 telah dibalas pada bulan januari 1874.
Van Sweiten karena gembiranya memerintahkan tentara memainkan musik lagu Wien Neerlandsch bloed (barang siapa yang berdarah india) seta mengedarkan bendera kampanye kepada para perwira yang sengaja di bawa untuk maksud tersebut. Perintah harian yang di tujukan kepada para pasukannya disusun dengan gaya bahasa tentara yang seindah-nya. ('Dalam Sultan Aceh tekah kita miliki dan bangsa Aceh yang perkasa itu telah tunduk kepada keberanian dan kecakapan anda berperang').
Di Den Haag Staats-Courant' (koran negara) Belanda telah menerbitkan nomor istimewa dengan selebaran yang berjudul "Dalam Sultan Aceh telah kita miliki". Di gedung-gedung pemerintah di kota-kota di HIndia dan negeri Belanda dikibarkan bendera; pada malam harinya di pasang bunga-bunga api, sementara di gedung kesenian Kerajaan di Den Haag setelah musik di memperdengarkan lagu-lagu penghormatan, dinyanyikan lagu kebangsaan dan setiap orang saling berpandang-pandangan dengan air mata yang berlinang-linang.
Akan tetapi kemenangan tidaklah dimulai dari Dalam Sultan Aceh. Berlainan sekali dengan adat kebiasaan negara2 lain, maka kehilangan tempat kediaman Sultan dalam memerangi Aceh tidaklah berarti apa-apa. Bahkan kemangkatan sultan muda itu akibat penyakit kolera yang diimpor oleh tentara Hindia-Belanda tidak sedikitpun menimbulkan perbedaan semangat perjuangan pada pihak-pihak Aceh. Tembakan-tembakan gencar terhadap Dalam, Mesjid Raya dan serangan-serangan terhadap tempat-tempat kedudukan tentara Hindia-Belanda di teruskan siang dan malam oleh pejuang-pejuang Aceh. Orang-orang Aceh yang tidak memiliki pasukan-pasukan yang teratur, paling banyak mereka berperang dalam jumlah puluhan atau ratusan orang, akan tetapi demikianlah mereka itu memulai peperangan gerilya seolah-olah telah berlatih secara mahir untuk maksud-maksud tersebut.
sumber

Abu Dawöed Beureuéh & Pengakuan Prabowo

Abu Dawöed Beureuéh dan Pengakuan Prabowo 
Saat berkunjung ke Aceh tadi, Prabowo dihadapan banyak orang di Lampulo ia mengatakan kalau Ayahnya Soemitro Djojohadikoesoemo sudah dianggap sebagai anak oleh Tengku Abu Dawoëd Beureuéh. Secara tidak langsung, ia ingin mengatakan kalau dirinya adalah "cucu" Abu Dawöed Beureuéh.
Banyak yang tidak tahu, 1 Mei 1978 atau satu tahun sesudah dideklarasikan Aceh Merdeka oleh Tengku Hasan di Tiro. Kala itu, Indonesia dibawah kepemimpinan Suharto, mantan mertua Prabowo Subianto, membentuk tim khusus untuk menangkap Abu Dawöed Beureuéh agar diasingkan ke Jakarta.Tim khusus itu dipimpin oleh Letnan Satu Sjafrie Sjamsoeddin.
Abu menolak untuk dibawa, bahkan disaat penolakan Abu yang saat itu sudah tua justru anak buah Sjafri menyuntik obat bius ke badan Abu. Abu Dawöed melawan, hingga jarum suntik patah, dan darah berceceran membasahi badan dan baju Abu yang lusuh. [Photo Baju Abu berceceran darah dimuat dalam Buku H.M. Nur El Ibrahimy]
Bahkan, saat anak buah Sjafri membawa Abu Dawöed dengan Helikopter, Abu dalam kondisi tidak sadarkan diri dan disumpal dengan kayu yang sudah dibalut kain, agar mulut Abu selalu terbuka. [Lihat Photonya dalam Buku Hasan Tiro Karya Murizal Hamzah]
Sjafrie adalah teman se-angkatan Prabowo di Akademi Militer pada tahun 1974 saat menempuh pendidikan TNI Angkatan Darat, demikian juga Susilo Bambang Yudhoyono. Tahun 1997, Sjafri menjadi Pangdam Jaya, dan Prabowo menjadi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) hingga kemudian menjadi Panglima Konstrad.
Ironis, jika Prabowo mengatakan kalau Ayahnya diangkat menjadi anak oleh Abu Dawöed Beureuéh yang dianggap lawan oleh Republik. Tidak ada bukti sejarah terkait pengakuanya itu. Karena faktanya, Sjafri yang menangkap Abu Dawöed adalah temannya Prabowo, dan Suharto adalah Presiden dari rezim Orde Baru yang telah menzalimi Abu Dawöed Beureuéuh itu adalah mertuanya, dan Soemitro adalah besan Suharto.
Jika ditilik, kondisi lingkaran kekuasaan saat itu seperti Devil One Swarp alias Jén saböeh Abéuk. Karena, tidak mungkin, kala seorang "Ayah" akan ditangkap oleh teman dari anaknya Soemitro tidak mampu mencegahnya, apalagi dia adalah bagian dari kekuatan Orde Baru yang kejam.
Abuwa Keunôeng Peungéut, Miwa Keunôeng peungéut, oh Akhé masa aneuk muda pih keunông peungéut. Begitulah salah satu lagu Aceh dulu menarasikan sejarah kepada kita generasi masa depan. Mubut! (Haekal Afifa).

Nenek Tengku Hasan di Tiro

Potjut Mirah Gambang, Nenek Tengku Hasan di Tiro ||
Badannya penuh darah, sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Ia tergeletak lemah diatas tanah yang dipenuhi genangan darah. Abdullah, putranya yang masih berumur 5 Bulan berada didekat ibunya yang tergeletak lesu, memandang penuh harap pada sang bunda tanpa mengerti apa sebenarnya yang terjadi.
Wanita Aceh yang hebat itu adalah Potjut Gambang, anak dari Tjut Njak Dhien dan Teuku Umar. Wanita merdeka yang ditembak oleh Belanda dalam Perang Gunung Halimon. Ia menemukan syahidnya pada 3 September 1910, dua hari sebelum suaminya; Tengku Chik Mahyeddin di Tiro syahid di Perang Kuta Aneuk Galông pada 5 September 1910.
Banyak yang tidak tahu, jika Potjut Gambang adalah Nek Tjhik-nya Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Perkawinan Tengku Chik Mahyeddin dengan Potjut Gambang telah melahirkan Tengku Potjut Fatimah, Ibu dari Tengku Hasan di Tiro. Pertautannya sangat dekat, Tengku Hasan di Tiro adalah Cucu dari Potjut Gambang dan Cicit dari Cut Njak Dhien. Sama halnya ia juga cicit dari Tengku Chik di Tiro Muhammad Saman.
Melihat Potjut Gambang terluka parah, H.J. Schmidt Letnah Belanda yang memimpin perang Halimon itu merasa iba. Sambil mendekatinya, ia menawarkan segelas air kepada Potjut Gambang dalam bahasa Aceh;
"Neupeuméuah ulôn, Potjut. Peudjeut neudjép ië bacut?" ujar Schmidt. Suasana hening. Tanpa jawaban apapun. "Peu Potjut peu-idin kamöe peuubat luka neuh?" tawarnya lagi.
Sambil berdiri pelan dan memaling mukanya kearah lain, dengan penuh emosi Potjut Gambang menjawab; "Ka wëh keudéh Kaphe tjiaka! Bét kamat kuh! Hana keupu keu ubat kah! Ka kapöh Ayahkuh, Njak kuh, Laköe kuh, kabéh kapöh kamöe mandum. Kah handjéut kagantöe peuë njang ka kah peureulöe. Hana kutuëng sayang nibak kah! Kadjak wéh keudéh!"
H.J. Shmidt tertegun mendengar jawaban wanita agung ini. Ia menyaksikan bagaimana tegarnya Mujahidah Aceh menjelang syahidnya, tak ada ketakutan di wajahnya. Bahkan, ronanya menyiratkan kebanggaan, kesabaran dan kekuataan. Beberapa jam kemudian, Potjut Gambang menemui syahidnya.
Dalam bukunya, "Marechausse in Atjeh" Schmidt menulis kisah ini. Baginya, hanya ada satu ungkapan (Prancis) untuk sikap Potjut Gambang ; "Bon sang ne Saurait Mentir" - Darah njang djröeh handjéut djiseumulét! [Haekal Afifa]

Seribu Cara Untuk Mati di Aceh

 Seribu Cara Untuk Mati di Aceh
oleh : Taufik Almubarak

Menyimak banyaknya orang meninggal di Aceh akhir-akhir ini, saya jadi teringat film "A Million Ways to Die in the West (Sejuta Cara untuk Mati di Barat)". Kematian adalah misteri ilahi - status facebook.

Bayangkan saja, malam ini pada 142 tahun yang silam. Kalau saat itu ada Facebook atau Twitter, kira-kira, apakah kita sempat menulis status dan berkicau? Atau kalau kita lagi makan di sebuah cafe, apakah makanan itu bakal kita kunyah dengan tenang? Atau kebetulan kita lagi nongkrong di warkop dan berha-hi-hu dan lalu tahu-tahu besok negeri kita dilanda perang, apakah kita masih sempat tertawa lebar? Saya ragu menjawab semua pertanyaan remeh-temeh itu dengan 'Ya'.



Orang-orang di Belanda pasti berdoa di gereja dan berharap anggota keluarganya yang pergi berperang ke Aceh bisa pulang dengan selamat. Di Batavia, pasukan marsose yang berasal dari pelosok-pelosok Jawa, Kalimantan dan Sulawesi pasti tak bisa tidur nyenyak karena mereka tak bisa memastikan apakah dapat kembali dengan selamat atau tidak.

Sementara di Aceh, sekali pun orang Aceh menggemari perang, pasti mereka tak menyambutnya dengan suka-cita walaupun agama mereka memberi garansi surga untuk siapa saja yang dengan gagah berani maju ke medan perang dan mati berlumuran darah.

Para pejuang Aceh yang sudah bersiap maju berperang, mereka pasti menggali 'kurok-kurok' (bungker tradisional) di dalam rumah untuk keluarga mereka yang tak bisa ikut berperang. Orang-orang inilah yang nanti akan jadi penuntut balas jika keluarganya yang berperang mati syahid.

Kasak-kusuk tak hanya terjadi di negeri Belanda, Batavia atau Kutaraja. Orang-orang di tempat lain juga sama sibuknya. Semua harap-harap cemas, soalnya, Belanda sudah mengambil keputusan menyerang Aceh. Belanda jelas kesal dengan Aceh, kerajaan di ujung Sumatera yang dianggapnya genit itu [ah, terlalu mengada-ada saya ini]. Apa pasal?

Permintaan-permintaan untuk penyerahan diri Aceh ditolak dengan tegas. Malah, dalam satu riwayat yang berkembang, permintaan menyerah dijawab oleh orang Aceh dengan membalikkan badan berlagak orang kentut sambil berteriak, 'Bek lei takheun nanggroe, manok nyang tan gigoe lam bumoe Aceh nyoe bek ka coba-coba raba!'. Nah, genit, kan?

Jadilah, Aceh dan Belanda terlibat perang berkepanjangan. Kedua belah pihak sama-sama menderita kerugian. Kalau dipikir-pikir, Aceh-lah yang lebih merugi. Sebab, setelah Belanda resmi keluar dari Aceh tahun 1942, Aceh kehilangan kedaulatannya. Kalau soal korban, tak perlu ditanya. Namanya saja perang, pasti ada yang meninggal, ada yang cedera dan ada yang sakit jiwa. Makanya, orang bijak sering memberi saran, “jika kita tidak menghentikan perang, maka perang-lah yang akan menghentikan kita”.

By the way, malam ini, setelah 142 tahun silam, rupanya masih ada orang yang mati di Aceh. Orang-orang cemas bukan main. Sebab, betapa gampangnya orang mati di Aceh. Setelah dua intel TNI yang diculik ditemukan tewas di Nisam, Aceh Utara, secara beruntun kita menerima kabar kematian seorang janda yang dibunuh di rumahnya di kawasan Darul Imarah, Aceh Besar, lalu ada anggota Polres Pidie yang ditembak hingga tewas di Tangse, Pidie. Sebelum-sebelumnya, ada yang meninggal diinjak gajah, diterkam harimau atau meninggal ketika mencari batu giok dan tertimbun longsor. Ada banyak jalan cara mati di Aceh.

Saya tak habis pikir, kenapa orang-orang luar biasa ributnya merespon kematian dua anggota intel TNI itu? Memang, kematian adalah perkara serius dan kejadian luar biasa. Tapi, lupakah kita, bahwa kematian selalu akrab dengan Aceh: tidak saja TNI, Polisi, dan GAM, karena mereka memang memilihnya begitu. Yang kita sesali, ada masyarakat tak berdosa jadi korban. Dulu, bukan satu-dua orang Aceh meninggal, tapi ribuan.

Respon publik di Aceh dan Jakarta biasa-biasa saja. Mereka diam seribu bahasa. Ada sih yang memprotes, tapi suara mereka tak cukup gemanya untuk memberitahu khalayak. Sementara orang-orang di Aceh sudah menganggap hal biasa soal kematian, dan sudah lumrah. Karena, perkara mati di Aceh bukan lagi soal siapanya, tapi soal kapan? Hari ini orang lain yang mati, besok kita sendiri yang mati. Begitu siklusnya.

Pun begitu, kita tak bisa menolerir para pelaku yang begitu mudahnya menghilangkan nyawa orang, apalagi hanya karena alasan sepele. Selayaknya, siapa pun pelaku, kita pantas mengutuknya. Sebab, mereka sama saja memprovokasi perdamaian Aceh dan sedang berupaya menulis ulang kitab konflik yang sudah ‘dibakar’ di Helsinki hampir sepuluh tahun silam.

Perdamaian memang membuat kita dapat hidup tenang, sesuatu yang tak bisa kita dapatkan dalam suasana konflik. Perdamaian tak pernah dapat memberi garansi dengan pasti bahwa begitu damai tercipta, sesuatunya akan berjalan normal, apalagi garansi kesejahteraan. Lazim terjadi dalam setiap perdamaian tercipta di Aceh, ada yang menikmati ‘boh manok mirah’, dan ada pula yang kebagian ‘boh manok kom’. Semua sangat tergantung pada usaha masing-masing.

Sekali pun saya mencoba tegar menulis posting ini, ada yang membuat saya sedih. Anak teman saya, berumur 7,5 tahun dan masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar, sepulang ke rumah dari sekolah, sembari memberi tahu orang tuanya, “Ayah, ada orang tua teman saya meninggal karena ditembak.” Bayangkan, seorang murid sekolah tahu soal penembakan. Secara tidak langsung, mereka sudah diajari kembali soal pembunuhan, perang, dan penembakan menggunakan senjata.

Wahai...siapa pun yang sedang punya agenda mengobok-obok Aceh, janganlah memancing kembali Aceh ke pusara konflik, karena korban-korban sebelumnya, belum sepenuhnya disantuni! Luka-luka belum seutuhnya sembuh. Ingatlah, betapa besar duka orang Aceh pada 142 tahun silam ketika Belanda secara pongah dan congkak memaklumkan perang terhadap Aceh. Duka itu belum benar-benar pulih sekarang. []

Note: tulisan ini pertama kali tayang di website sulih.com pada 26 Maret 2015.

Bek Panik, nasehat bijak anti rumit

Bek panik !!!

Salah Paham Terhadap Aceh

"Salah Paham Terhadap Aceh"
Oleh: Sarah Mantovani, SH.
Tulisan ini tak bermaksud untuk membuka kembali luka lama Aceh tetapi hanya untuk meluruskan sejarah yang ada.
Kenapa harus Aceh?.
Pencarian saya tentang sejarah Aceh berawal dari kesalahpahaman teman saya di Kairo dengan mahasiswa Aceh yang juga teman saya di Kairo, bahwa mahasiswa Aceh di sana itu eksklusif, tertutup, dan suka membanggakan suku sendiri (contohnya seperti penyebutan masyarakat Aceh yang berubah menjadi rakyat Aceh). Seketika timbul pertanyaan di benak saya : Kenapa dengan orang Aceh? Ada apa dengan mereka? Apa sebabnya teman saya mengatakan seperti itu?. Lalu, saat saya meminta klarifikasi langsung dari salah satu teman saya yang menjadi mahasiswa Aceh di sana via Facebook, saya mendapatkan satu kesimpulan bahwa “Orang Aceh pernah punya pengalaman buruk di masa lalu dengan orang Jawa”. Dan saat itu saya baru teringat bahwa teman saya yang salah paham itu adalah orang Jawa.
Pada awalnya pun saya sempat agak terpengaruh juga dengan ucapan teman saya karena jujur saja, saya paling tidak suka dengan orang yang sukuis (membanggakan suku sendiri lebih baik dari suku yang lain) tapi saya juga tidak bisa menilai dari satu pihak saja, saya harus mencari sendiri apa penyebabnya.

Pikiran saya langsung tertuju pada cerita teman saya yang mahasiswa Aceh bahwa, “Mereka yang di kuburkan di kuburan Kherkof Belanda di Aceh kebanyakan adalah orang-orang Pribumi, bisa dikatakan orang-orang Jawa yang meninggal di Aceh karena termakan taktik devide et impera-nya Tentara Belanda juga ikut di kubur di situ”. Tak hanya itu, saya langsung teringat dengan komentar Pramudya Ananta Toer terhadap Novel Bidadari Hitam yang di tulis oleh T.I Thamrin-orang Aceh asli, “Setiap kali ada yang datang dari suku Aceh, saya selalu minta maaf sebagai orang Jawa. Sudah lebih 100 tahun orang Jawa memerangi Aceh, saya ikut-ikutan bersalah…”.
Dialog-dialog yang ada di dalam Novel tersebut pun membuat saya jadi makin penasaran dengan apa yang terjadi pada Aceh di masa lalu…

“Tidak, nong. Nama kita semua adalah Aceh. Karena itu kita memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di mata orang Jakarta. Aceh yang pernah menolong dan memberi makan mereka, membelikan mereka 2 pesawat terbang, membiayai NKRI yang lagi terjepit ekornya. Tapi, ketika mereka sudah berani mengambil sendiri di lumbung kita, mereka melecehkan, memburu dan membunuh kita seperti kecoak. Kita bilang, silahkan ambil tapi jangan mencuri dan jangan kemaruk, lalu mereka marah besar, menuduh kita pemberontak, karena itu wajib dibunuh. Perempuan kita yang melawan juga diburu dan diperkosanya, seperti tak malu pada Ibu dan saudarinya sendiri. Seperti Ibu dan saudarinya bukan perempuan saja.”.
Timbul banyak pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh saya, “Ada apa dengan Aceh pada masa lalu? Kenapa Aceh pernah sangat ingin memisahkan diri dari NKRI? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Alasan apa yang menyebabkan Aceh sampai ingin bergabung dengan NII dan mendirikan DI/TII atau GAM? Kenapa Pemerintah pada jaman dulu (era Presiden Sukarno sampai Presiden Megawati) harus bertindak brutal, kejam dan sadis hanya karena ingin mempertahankan Aceh untuk tetap di wilayah NKRI? Kenapa cara-cara tersebut harus di lakukan oleh Pemerintah?”
Dan dari situ saya baru menyadari bahwa ada potongan sejarah lain yang belum saya ketahui dari Aceh.

Aceh masa lalu adalah Sebuah Negara.
Tak etis rasanya bila saya tidak menceritakan saat Aceh masih menjadi sebuah negara yang berdiri sendiri.
Sejarawan Said ‘Alawi Thahir al-Haddad dalam bukunya “Al-Madkhal ilaa Taarikh al-Islam fi al-Syarq al-Aqsa” menyebutkan satu dokumen kuno dari Dinasti Yang di Cina, yang menceritakan pada tahun 518 M telah datang kepada raja Cina utusan dari kerajaan Puli yang terletak di ujung utara pulau Sumatera (kerajaan Puli adalah kerajaan Puli atau Indra Puri yang memang telah ada di Aceh sebelum Islam datang. Namun, karena kesulitan mengucap huruf R dalam dialek Cina, maka berubah menjadi L sehingga tertulis “Puli” dalam dokumen Dinasti Yang tersebut. Sisa-sisa dari kerajaan ini masih bisa ditemukan di kawasan Indra Puri, Aceh Besar). Dokumen ini juga menceritakan bahwa kerajaan Puli terbagi dalam 136 wilayah dengan luas wilayah 50 hari perjalanan kaki dari utara ke selatan dan 20 hari perjalanan kaki dari barat ke timur. Dokumen ini membuktikan bahwa sejak abad ke-6 M, orang-orang yang mendiami daerah pesisir Aceh telah mengenal suatu tata cara kehidupan yang berperadaban cukup maju dibanding kawasan-kawasan lain di Nusantara, kecuali kawasan pinggiran sungai Mahakam di Kalimantan Timur, dimana kerajaan Hindu Kutai telah berdiri sejak abad ke 5 M, begitu juga kawasan Jawa Barat dengan kerajaan Taruma Negaranya.

Daerah pesisir utara Aceh mulai disinggahi para pedagang Muslim dari Malabar di India atau langsung dari Jazirah Arab pada abad ke-7 M (1 H), sebagaimana disebutkan L. Van Rijck Vorsel dalam bukunya “Riwayat kepulauan Hindia Timur”. Ia juga menyebutkan bahwa orang-orang Arab telah lebih dahulu tiba di Sumatera 750 tahun sebelum kedatangan Belanda ke sana.
Namun, kerajaan Islam baru muncul pada awal abad ke-9 M. Di antara kerajaan-kerajaan Islam yang pertama di Aceh adalah kerajaan Peureulak di pesisir timur Aceh yang berdiri pada tahun 804 M, kerajaan Lamuri dan Samudra Pasai di pesisir utara Aceh.
Pada awal abad ke 16 M, berdirilah kerajaan Islam Aceh Darussalam yang berbentuk kesultanan Aceh dengan raja pertamanya Sultan Ali Mughayat Syah (1513-1530) putra dari sultan Syamsu Syah dan cucu dari sultan Inayat Syah dari kerajaan Lamuri. Kerajaan Aceh Darussalam yang lahir pada tanggal 12 Dzulqa’idah 916 (1513 M) adalah sebuah kerajaan Federasi yang terdiri dari kerajaan Islam Peureulak, kerajaan Islam Samudra Pasai, kerajaan Lamuri, kerajaan Islam Lamno Jaya, kerajaan Islam Lingge, kerajaan Islam Pedir dan kerajaan Islam Teuming. Peleburan kerajaan-kerajaan Islam Aceh dalam satu wadah itu kemudian diberi nama kerajaan Aceh Raya Darussalam, atau lebih dikenal dengan proklamasi Samudra Pasai.
Kerajaan Aceh Darussalam mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Ia mampu menempatkan kerajaan Islam di Aceh pada peringkat kelima di antara kerajaan terbesar Islam di dunia pada abad ke 16. Kelima kerajaan Islam tersebut adalah kerajaan Islam Turki Utsmani di Istanbul, kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara, kerajaan Islam Isfahan di Timur Tengah, kerajaan Islam Akra di India dan kerajaan Aceh Darussalam di Asia Tenggara. (Mutiara Fahmi, tesis: Gerakan Kemerdekaan di Aceh dalam pertimbangan Hukum Islam, 2006, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hlm. 70-72)
Lalu kenapa Aceh pernah sangat ingin memisahkan diri dari NKRI?
Berikut ini adalah beberapa faktor kenapa Aceh pernah ingin memisahkan diri dari NKRI:
Sikap pemimpin RI yang dipandang oleh Tgk. Daud Beureueh telah menyimpang dari jalan yang benar.

Karena pada waktu itu Presiden Sukarno pernah berjanji memberikan hak kepada Aceh untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan syari’at Islam dan janji tersebut tak pernah diwujudkan. Hal ini diperkuat oleh pengakuan saksi dan pelaku sejarah Tgk. H. Syech Marhaban Hasan yang menceritakan, saat kunjungan Soekarno ke Aceh, Soekarno pernah meminta kepada Tgk. Daud Beureueh untuk membantu perang bersenjata antara Indonesia dengan Belanda, Daud Beureueh menyanggupi asalkan dengan 2 syarat : perang yang dikobarkan adalah perang Fisabilillah dan rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan syari’at Islam di dalam daerahnya apabila perang telah usai. Akhirnya Soekarno menyanggupi 2 syarat tersebut, Namun, Daud Beureueh meragukan janji Soekarno dan meminta Soekarno untuk menuliskan janjinya tersebut di atas secarik kertas. Melihat hal itu, Soekarno langsung menangis terisak-isak dan merasa tidak dipercaya. Melihat Soekarno menangis, Daud Beureueh menjadi terharu dan kemudian berkata, “Bukan kami tidak percaya saudara presiden. Akan tetapi, hanya sekedar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang”. Lalu Soekarno menyeka air matanya dan menjawab: “Wallahi, Billahi, kepada Daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai syari-at Islam. Dan Wallahi, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat melaksanakan syari’at Islam di dalam daerahnya”. Menurut keterangan Daud Bereueh, karena iba hatinya melihat Presiden menangis terisak-isak, dirinya tak sampai hati lagi meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji Presiden Soekarno. (Ibid, hlm. 119-121)
Kekecewaan rakyat Aceh saat status propinsi Aceh yang belum genap berumur setahun dibubarkan oleh kebijakan Pemerintah Pusat dan menggabungkannya dengan Propinsi Sumatera Utara (yang berbeda latar belakang serta kebudayaannya) dengan alasan yang cukup ironis yaitu karena bertentangan dengan hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang hanya mengakui 10 propinsi dalam wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS). Padahal, RIS itu sendiri justru lahir dan mendapat pengakuan Internasional karena masih adanya Aceh sebagai satu-satunya wilayah modal Indonesia yang tidak dapat kembali di duduki oleh Belanda dalam perjuangan fisik. (Ibid, hlm. 121)
Saat Aceh masih menjadi sebuah Negara, Aceh tidak pernah menyerahkan kedaulatannya kepada Belanda, sehingga secara hukum, Aceh bukan Hindia Belanda dan dengan demikian saat Hindia Belanda menjadi Indonesia, Aceh tidak secara otomatis berada di dalamnya. Menurut teori Ilmu Negara dan Hukum Internasional, bangsa dan Negara Aceh belum lebur tapi bermasalah. Hilangnya status suatu bangsa dan negara menurut Sofyan Ibrahim Tiba, SH (juru runding Gerakan Aceh Merdeka) karena satu dari dua alasan, yaitu alasan alam, seumpama buminya hancur atau tenggelam. Dan alasan sosial politik, jika negara atau bangsa itu telah menggabungkan diri ke dalam atau bersama bangsa lain. Oleh karena itu, menurut GAM, penggabungan Aceh ke dalam Indonesia saat proklamasi 17 Agustus 1945 belum sah dan merupakan kekeliruan ketata-negaraan. Aceh menurutnya, sejak proklamasi tidak pernah menyatakan bergabung dengan NKRI seperti halnya Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman melalui keputusan Kotikokootai (Dewan Perwakilan Rakyat) tanggal 19 Agustus 1945. (Ibid, hlm. 141-142)
Karena perlakuan tidak adil dari pemerintah pusat terhadap Aceh. Seperti sikap sentralistik pemerintah Orba terhadap Aceh yang telah melahirkan kesenjagan sosial-ekonomi yang cukup mencolok di daerah istimewa Aceh. Sebagai contoh, penerimaan APBD propinsi Daerah Istimewa Aceh tahun 1997/1998 hanya berkisar 150 milyar dari +/- Rp. 32 triliun yang disumbangkannya untuk negara pada tahun yang sama. Artinya, apa yang diterima Aceh tidak sampai 0,5 % dari total yang disumbangkannya. (lihat Said Mudhakar Ahmad, Masalah Aceh: Dilema antara Sikap, Martabat dan Rasa Keadilan, Waspada (Harian), Medan 31 Agustus 1998). (Ibid, hlm. 82).
Alih-alih ingin mengamankan situasi dari tindakan suatu gerakan yang disebut pemerintah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM), banyak korban sipil yang menjadi korban pelanggaran HAM berat dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against Humanity) dalam pemberlakuan status DOM tersebut. Seperti adanya pembunuhan, adanya penyiksaan atau penganiayaan baik secara fisik maupun mental, adanya penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang, adanya kekerasan seksual, adanya penghilangan paksa dll. (untuk mengetahui lebih jauh tentang jumlah korban DOM, lihat buku yang ditulis oleh Al-Chaidar, (Ibid, hlm. 84).
Karena efek dari kesalahpahaman teman saya inilah yang akhirnya membuat saya menjadi jatuh cinta pada Aceh dan masa lalunya. Seharusnya mereka yang kontra terhadap pemberlakuan syari’at Islam di Aceh dengan alasan karena terbentur dengan undang-undang yang ada di atasnya bisa mengingat kembali janji dan sumpah Presiden Sukarno dulu terhadap Tgk Daud Beureueh-khususnya pada rakyat Aceh.
Oleh: Sarah Mantovani, SH.

Ada Gula Tak Ada Semut, Nasib Bekas PG Cot Girek Aceh

 Nasib Pabrik Gula Cot Girek Aceh
Ada Gula Tak Ada Semut, Nasib Bekas PG Cot Girek Aceh
Peribahasa yang umum dipakai untuk menganalogikan daya tarik suatu daerah atau sebuah tempat yang memiliki kandungan komersil hingga mampu menarik pendatang untuk menikmati limpahan kekayaan daerah tersebut dan menciptakan adanya saling membutuhkan adalah "Ada Gula Ada Semut." Banyak contoh yang bisa diambil untuk mendiskripsikan peribahasa tersebut. Salah satunya adalah sebuah daerah di pedalaman Aceh Utara, ada sebuah desa disebut Cot Girek. Lokasinya 15 Km dari Kota Lhoksukon atau 35 Km dari kota Lhokseumawe. Daerah ini sekitar tahun 1970-an adalah daerah yang hijau, masih diselimuti oleh hutan-hutan yang rindang. 
Akan tetapi di dalam hutan yang rindang itu terdapat areal perkebunan tebu yang sangat luas, kalau tidak salah sekitar 1000 Ha milik PTPN-1 yang ditugasi untuk mengelola Pabrik Gula (PG) Cot Girek. Dari lahan inilah PG tadi mendapat suplay bahan bakunya pada saat itu. PG Cot Girek ini diresmikan oleh almarhum Presiden Soeharto pada Mei 1970. 
Saat itu masayarakat Aceh sangat bangga dengan hadirnya pabrik tersebut. Banyak mimpi-mimpi indah yang terhembus di Aceh jika pabrik ini nantinya mampu mandiri dan akan dapat menopang perekonomian Aceh, khususnya Aceh Utara. Oleh karenanya tidak heran, saat presiden akan berkunjung ada dua sisi yang paling sibuk menghadapi kunuungan Presiden. 
Yang pertama adalah anak-anak sekolah, khsusnya aanak murid SD se Kecamatan Syamtalira Arun (saat itu satu kecamatan dengan Cot Girek) seminggu sebelum pak Harto tiba anak-anak sudah dilatih baris berbaris, bernyanyi dan rumah-rumah penduduk yang akan dilewati oleh pak harto disekitar PG telah disulap dengan cat putih dan merah. Di sisi lain yang tak kalah sibuk selain pemerintah daerah tingkat dua, adalah pasukan pengawal pak Harto (kalau tidak salah namanya saat itu Paswalpres). Ketika rombongan pak Harto tiba dengan beberapa buah bis besar melewati jalan yang berpasir yang belum diaspal tentu akan membuat debu mengebul kesana kemari di sepanjang lintasan 15 Km dari Lhoksukun ke Cot Girek. 
Beberapa uaaya penyiraman dilakukan sebelum rombongan lewat, tapi tidak kuat menahan sengatan terik matahari sehingga jalan yang baru disiram air berkali-kali itu mengering lagi seketika. Anak-anak SD dengan menggunakan bendera yang terbuat dari bahan kertas manila (kertas minyak?) menggerak-gerakkan tangannya seolah menyampaikan pesan selamat datang di daerah tersebut. Anak murid SD ditemani oleh gurunya menunggu berjam-jam. Informasi dari panitia, Presiden akan lewat jam 9.00 otomatis guru dan anakmuridnya bergegas ke lokasi pukul 8.30. Setelah menunggu 90 menit anak-anak mulai bosan, ada yang pingsan, ada yang gak kuat berdiri lalu menyingkir dari tepi jalan.
Posisi di atas Cot Girek menuju Medan Panitia memberi masukan kembali, "bahwa sekitar 1 jam lagi Presiden akan lewat". Mendengar pengumuman seperti itu otomatis berhamburanlah kembali para "penunggu tamu" berdiri di kiri-kanan tepi jalan. Ternyata kejadiannya terulan kembali, Presiden belum juga datang. Keadaan ini terjadi hingga 3 kali kalau tidak salah sehingga akhirnya rombongan presiden baru lewat sekitar pukul 12 siang atau 3,5 jam setelah anak-anak dan guru berbaris memanjang sepanjang jalan tempat lokasi rombongan akan lewat. Mereka menunggu dengan gagah berani dan penuh semangat. Presiden sendiri tidak ada dalam rombongan itu, karena pak Harto menggunakan Helikopter dari kota Lhokseumawe atau dari bandara Malikulsaleh menuju Cot Girek ditempuh dalam waktu perjalanan selama 15 menit saja. Presiden mendarat di dekat PG Cot Girek. 

Setelah acara singkat selesai, lalu pak Harto pulang mengikuti jalur dan prosedur saat kedatangannya. Presiden pulang, tinggallah PG Cot Girek dalam hari demi hari menggantungkan harapan pada subsidi pupuk, tebu yang tidak berkualitas dan subsidi harga untuk menekan Harga Pokok Penjualan. Kondisi ini terus saja berlangsung, kalau tidak salah hingga 1980-an pabrik ini sudah ngos-ngosan karena kekurangan subsidi. 

Akhirnya pada tahun 1985 pabrik ini sudah benar-benar ditutup, bukan saja rugi tapi benar-benar tidak memberikan lagi kontribusi apapun kepada pegawai dan pekerjanya. Kini, 40 tahun setelah didirikan, kondisi areal PG Cot Girek ditempat gambar pak Harto terlihat berjalan -dengan hati penuh gembira- sekarang tinggal bangunan yang melepuh dan tidak terurus sama sekali. Di berbagai sudut pabrik yang terlihat adalah bangunan tua yang mengerikan karena sudah menjamur di mana-mana. Lokasi itu telah ditumbuhi oleh semak belukar dan lalang setinggi 2 meteran. Tidak jelas siapa yang pernah membersihkan areal tersebut sehingga masih bertahan hingga saat ini walau dalam wujud yang 
menyeramkan.

PG Cot Girek tinggal kenangan. Apakah salah urus, salah asuhan atau salah manajemen? Padahal sebetulnya ia memiliki persediaan yang memadai untuk ditanami tebu penyuplai bahan pokoknya sendiri. Tapi apa hendak dikata, bak kata pepatah "Nasi telah mejadi bubur" semua sia-saia saja rasanya... Maka pantaskah kita memberi peribahasa untuk PG ini menjadi " Ada Gula Tak Ada Semutnya...?" Semoga suatu saat lahan itu masih dapat dipakai untuk mebangun pabrik gula yang lebih baik dan modern. Suatu saat...? Ya, suatu saat. Bukankah harapan itu pertanda kehidupan masih ada..? Mari berharap kembali..!
Sumber
 
.

Comment

.

Label 1

Support : Your Link 1 | Kupi Atjeh | Your Link 2
Copyright © 2011. Kupi Aceh - All Rights Reserved
Theme Maskolis Oprexed Your Link 1
Powered by You Know It